Kamis, 22 Agustus 2013

Wajah Suram Kairo di Suatu Pagi

Asap hitam tak hentinya membumbung tinggi melenyapkan biru langit kairo pagi ini. Helikopter berputar-putar tak jelas arah mencabik ketenangan pagi, menebar terror suara di cakrawala kota, bahkan burung kecilpun tak berani menyanyikan senandung menyambut mentari. Hanya sekawanan gagak yang sembari tadi terbang kesana kemari di antara rerimbunan pohon Taman Al Azhar. "Kak.. kak.., kak.. kak," suara gerombolan gagak seakan tertawa riang dengan apa yang akan terjadi, menertawakan mahluk bernama manusia. Entah apa yang akan dilakukan manusia di tanah Kairo hari ini, kenapa wajah kota terlihat suram dan sedih, bahkan anginpun lesu tak kuasa berhembus.

Tahukah kawan kenapa Kairo berwajah muram pagi ini? Jika kau Tanya kucing lorong imaroh, mereka hanya akan menunduk lusuh, tak tega menjawab ataupun hanya sekedar menggeliat tidak tahu. Kau juga akan dapati baliho iklan ceria di jalanan murung dan mungkin jika mereka hidup, air mata akan mengucur dari setiap baliho. Karena pagi ini, Kairo akan merekam sejarah baru, bukan sebuah kegemilangan atau kemenangan, melainkan memotret catatan kejam nan kelam.

Ketika ribuan manusia turun ke jalan dan memenuhi medan Rabiah Al-Adawiyah, orang-orang pendukung presiden terkudeta Dr. Muhammad Mursi, aku tak tahu mereka mendukung karena loyal atau ngotot mempertahankan tahta empuk warisan Fir'aun?. Tak hanya membawa sepanduk dan balok kayu, tapi mereka juga membawa isteri dan ank-anak mereka, "mungkin mereka akan piknik?" pikirku. Mereka sudah siap dengan segala konsekuensi, bahkan jika nyawa jadi taruhanya. Tenda dan pos sudah didirikan di medan dan masjid Rab'ah, semua orang memenuhi jalanan, meminta jabatan presiden dikembalikan. Semudah itu kah?

Hari ini (Rabu, 14 Agustus 2013) adalah hari terakhir bagi demonstran, jika tetap bersikukuh meminta hak dan menetap di Rab'ah, maka militer akan membubarkan paksa, dengan segala cara. Aku sangka pembubaran akan menggunakan tembakan berpeluru karet dan gas air mata, tapi pagi ini Kairo bercerita lain. Kisah yang membuat setiap mata terbelalak dan hati bergejolak.

Door..!!" suara tembakan pembuka terdengar dari ujung gedung yang membentengi massa. Melihat beberapa orang tertembak dan darah berceceran di jalan, sontak orang-orang berlari mencari perlindungan, kerumunan berhamburan terpecah belah, semua orang ketakutan berlari tak tentu arah, banyak dari mereka yang terinjak dan harus meregang nyawa. Aku tak tahu siapa yang komandan yang bertugas dengan mudahnya menghakimi, lantas menempatkan puluhan penembak jitu di atap gedung dan tank baja untuk mengepung mereka?. Sejurus kemudian, puluhan peluru menghujani demonstran, bukan peluru karet, tapi asli. 

Seorang ibu dan anaknya menangis histeris, bagaimana tidak! Mereka melihat suami tercinta dan papa kesayangannya tertembak di depan mata, berlumuran darah. "ithla'i gowwah ma'al gama'ah fil masgid" (berlindunglah di masjid bersama yang lain), ucap sang ayah kepada isteri dan anaknya sebelum ia mengucapkan kalimat syahadat dan menghembuskan nafas terakhir. Air mata tak hentinya mengucur dari keduanya yang tak rela ditinggal begitu saja, sembari berlari mencari perlindungan ke dalam masjid. Seorang wartawan perempuan berkerudungpun tak luput dari tembakan, ia kehilangan nyawa saat mencoba mengabadikan pembantaian, peluru langsung masuk melalui lensa kameranya dan menembus langsung ke matanya. Para pria yang tersisa melawan militer sekuat tenaga dengan balok kayu dan batu, mereka kalah telak dengan militer yang bersenjata lengkap. Militer tak hanya diam mereka kembali mengangkat senjata, menyerang demonstran dengan puluhan atau bahkan ratusan amunisi. Satu persatu mereka meregang nyawa, rebah begitu saja menyentuh tanah para nabi ini, tak sempat menyampaikan wasiat atau hanya mengucapkan salam perpisahan. Tak sampai di situ, militer menhujani mereka dengan gas air mata, atau lebih tepatnya gas beracun, gas yang menutupi langit medan berdarah itu dengan asap tebal, menutupi kamera pengintai media agar saat ini tak diketahui dunia.


Beberapa helikopter terbang rendah di langit Rab'ah mengawasi jalannya eksekusi berdarah itu, dari atas terlihat ratusan tubuh tergolek di atas tanah, bergelimpangan di sembarang tempat, pria, wanita, tua, muda dan bahkan anak-anak, apa salah wajah-wajah belia ini? Hanya karena orang tuanya lantas tubuh lugu itu harus ditumpas?. Para sniper masih memburu siapa saja yang masih hidup dan melawan militer, mata elang mereka mengincar siapapun yang melawan dan mencurigakan. Apakah orang-orang yang seharusnya melindungi rakyat telah kehilangan hati nurani?, bagaimana bisa menyamakan manusia yang berbeda pendapat itu seperti babi hutan yang dijadikan buruan, mereka manusia bukan binatang!. Suara ambulan menjerit-jerit di jalanan kota, menyadarkan penduduk kota yang hanya mematung dan tak bisa berbuat apapun. Ambulan mulai berdatangan membawa mereka yang masih bisa diselamatkan, walaupun akhirnya mereka harus kehilangan nyawa saat di jalan atau bahkan tak terselamatkan. 

Tentara merengsek masuk ke pusat demostrasi yang sekarang lengah menuju masjid pusat pertahanan terakhir, jalanan hanya dipenuhi tubuh-tubuh berwajah pucat. Tiba-tiba para wanita dan anak-anak yang bertahan di masjid menangis histeris, jeritan dan ratapan begitu memekikan telinga dan menyayat hati. Bagaimana tidak! Mereka melihat mayat suami dan papa tercinta mereka seketika dibakar oleh militer, seakan tak merasa berdosa ataupun hanya menyesali telah melayangkan nyawa saudaranya, tidak!!. Manusia berseragam ini malah membakarnya untuk menghilangkan jejak. Dengan sigap mobil militer datang, mengambil tubuh-tubuh yang tak bernyawa, menumpuk mereka dalam mobil bak kantung sampah, entah metode penghilangan jejak apalagi yang akan mereka gunakan. Kobaran api dimana-mana, membuat jalanan layaknya lautan api, bukan kayu yang terbakar, melainkan puluhan tubuh manusia yang sekarang mengabu. Militer bersenjata mulai naik ke serambi masjid dan menembaki wanita, anak-anak dan beberapa pria yang masih bertahan, satu persatu terkena peluru dan jatuh tak berdaya. Mereka berhamburan keluar dan ahirnya menjadi sasaran empuk para sniper. Korban berjatuhan di serambi masjid, bahkan tempat untuk bersujudpun tak luput dari tumpahan darah. Mereka yang sebagian kaum papah meregang nyawa di dalam masjid, seketika militer membakar semua mayat beserta masjidnya. Wahai penguasa, apa yang telah diperbuat manusia-manusia ini, sehingga tega kau hukum mereka sebengis ini!

Ambulan menjerit-jerit memecah metropolitan Kairo mencoba membawa mayat yang bisa diselamatkan dari jilatan api militer. Tak ada pendemo lagi, yang tersisa hanya isak tangis keluarga yang kehilangan sanak saudara. Semua perlawan dan teriakan itu telah berakhir, semuanya menghilang di ujung senapan para sniper.

Hari ini kairo begitu suram, langitnya dipenuhi asap hitam menggumpal, bukan berarti akan hujan, tapi langit itu sedih dengan apa yang terjadi di bawahnya, ia tak tega menurunkan setetes airpun, karena itu hanya akan menambah lara, air tu hanya akan menghanyutkan debu manusia. Debu saksi sebuah kekejaman.

Semuanya berlalu begitu saja, terbawa angin kebisuan. Piramid merinding mendengar kabar duka dari kota, batu-batu puncaknya berguguran meluncur sebagai ungkapan berbela sungkawa. Bahkan Sphinx hanya diam meratap, seandainya ia bisa menangis, darahlah yang akan mengucur dari kelopak matanya. Walaupun penumpahan darah di Rab'ah telah usai, bunga dendam akan mulai bermekaran menuntut balas, nyawa dibalas nyawa. Aku tak habis pikir, kenapa menumpahkan darah lebih mudah dari pada harus berbagi kursi? Tidakkah indah bila kita berbagi kursi, menentukan masa depan Negara bersama. Karena bagi Allah, menghilangkan sebuah Ka'bah lebih mudah, dari pada membunuh nyawa seorang manusia.


Semoga berlalunya catatan hitam bisa mendewasakan bangsa ini. Memahami bahwa nilai persatuan begitu mahal harganya. Bahwa untuk kebaikan Negara, tak sepantasnya mengalirkan darah bangsa sendiri. Cukup kali ini, aku tak ingin melihat saudaraku menderita, meratapi kematian ataupun menyimpan sebuah dendam.
Kedua kubu saling menyerang
"
Demostran yang berteriak histeris melihat temannya terbakar

Related Articles

4 komentar:

  1. dan semoga keadaan mesir saat ini tidak terjadi di negeri kita , yg dikuasai oleh pemimpin yang angkuh dan dzolim terhadap rakyatnya sendiri... sampai ribuan nyawa hilang di tembaki secara brutal ,

    BalasHapus
  2. Amin Ya RAbb, Terima kasih kunjungannya Ust. rijal Al-Juyusyi. Sering2 Blogwalking, ditunggu juga tulisan blog antum :)

    BalasHapus
  3. Semoga Mesir cepat aman dan tidak lagi ada pertumpaahn darah disana agar kemurnian islam tetap terjaga. Aamiin... Btw jadi pulang ke indo gak nih? Baru tau kamu punya akun blogger jg

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, Mesir semakin Aman, malah sekarang ana khawatir kondisi Indonesia yang semakin merosot ekonominya jadi nilai tukar rupiah ke Mesir juga melemah. Semoga Indonesia kuat dan pulih ekonominya. iya Mba ga jadi pulang ke Indonesia, karena KBRI Mesir ga jadi addakan evakuasi, iya Mba, kemana ja baru tahu :D

    BalasHapus

Sahabat Blogger Miftah Wibowo