Selasa, 21 Juni 2016

Telisik Masjid Amr bin Ash, dari penaklukan Mesir hingga pemusnahan Fustat [1]


 "Jika Engkau mampu menaklukan Mesir, sesungguhnya ia akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Umat Islam. Karena sumberdaya alamnya amat melimpah, namun penduduknya tak berdaya untuk berperang".[2]
Halaman Tengah (Shan) Masjid Amr bin Ash.

Pendahuluan

Pertenghan Musim panas 6 Juni 640 M menjadi harapan baru bagi pasukan Muslim di Mesir, saat invantri bantuan dari Khalifah Umar bin Khattab tiba di bekas ibukota kejayaan masa Firaun, Ain Syams. Sahabat Zubair bin Awwam, Ubadah bin Shamit, Miqdad bin Aswad, Maslamah bin Mukhalad dan Kharjan bin Khudzafah merupakan nama para sahabat yang tercatat menjadi panglima dalam pasukan kiriman Khalifah. Bantuan datang, menyusul permintaan Amr bin Ash yang banyak kehilangan pasukan akibat sergapan Romawi di Umm Danin[3]. Untuk menaggulangi kekalahan akibat taktik perang Romawi yang selalu bersembunyi di balik kokohnya benteng Babylon ketika terdesak. Sahabat Amr menggunakan taktik "Pancingan", menantang tentara Romawi di Ain Syams yang jauh dari benteng mereka. Malamnya, Panglima Amr menyusun sekenario balasan dengan mengkonsentrasikan sebagian besar pasukannya di Ain Syams. Lalu tanpa sepengetahuan Romawi, ia menambahkan dua sayap invantri. Sayap pertama ditempatkan di dekat Jabal Muqattam[4] dan sayap kedua berada di Ummu Danin.

Paginya, pertempuran akbar yang ditunggu tiba saat fajar mulai menyingsing. Pasukan Muslim mulai bergerak dari markas Ain Syams ke selatan. Sedangkan pasukan Romawi beriringan keluar dari benteng merah, Babylon[5] menuju Ain Syam. Kedua pasukan bertemu di Abbasiyah. Baik Muslim maupun Romawi keduanya mulai melancarkan serangan setelah genderang perang ditabuh. Romawi begitu ambisius meluluhlantakan pasukan Muslim. Karena mereka telah menghancurkan dan menguasai titik kekuatan Romawi di Bahr al-Rum. Mulai dari Arisy, Farma, Bilbis dan sekarang mereka mencoba menaklukan jantung Romawi di Mesir, Benteng Babylon. Pasukan Muslimpun tak kalah semangat dalam berjihad. Bagi mereka hanya ada dua pilihan, mati syahid atau hidup menegakan Tauhid. Mereka percaya jika Mesir bisa masuk ke kekuasaan Kekhilafahan Islam, ia akan memotong sumber kekuatan Imperium Romawi di kawasan Mediterania. Itu artinya jazirah Arab akan terlindung dari serangan Romawi sewaktu-waktu.

Ternyata kemenangan berpihak pada pasukan Muslim. Pasukan Romawi yang tersisa tercerai berai dan melarikan diri ke timur menuju Babylon lewat lembah Muqattam. Namun tanpa mereka sangka, dengan sigap invantri pimpinan Kharjah bin khudzafah yang telah menunggu sejak semalam, menyergap pasukan Romawi. Kemudian mereka yang lolos dari sergapan pasukan Kharjah segera melarikan diri ke barat di pelabuhan Umm Danin, dimana kapal-kapal penyelamat menuju Babylon menunggu mereka. Lagi-lagi Pasukan Romawi mendapatkan serangan kejutan dari pasukan Muslim. Satu-satunya harapan mereka pupus, ketika mendapati kenyataan mereka terkepung pasukan Muslim yang telah siaga menunggu mereka. Pertempuran berlangsung heroik. Segelintir Romawi yang selamat dengan tenaga yang tersisa menyelamatkan diri ke Benteng Babylon.


Mihrab Utama dan Mimbar Masjid

A.    Kondisi sosial penduduk Mesir pra penaklukan
Tragedi bunuh diri Cleopatra[6] tahun 30 SM, menandai akhir kekuasaan Dinasti Ptolemy Yunani. Sejak saat itu Mesir memasuki sejarah kelam yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, menjadi negara jajahan Imperium Raksasa Byzantium. Di bawah pemerintahan langsung Agustus Caesar penduduk Mesir mulai mengalami pemaksaan agama, pajak yang tinggi dan penindasan yang bertubi-tubi. Romawi memandang Mesir sebagai lumbung negara penghasil gandum yang sangat berharga. Sedangkan Penduduknya mereka anggap sebagai alat penghasil gandum yang tak punya hak apapun dalam urusan pemerintahan dan administrasi negara. Dalam tatanan sosial, penduduk Mesir dipandang negara sebagai warga keempat atau kasta terendah setelah orang Romawi, Yunani dan Yahudi.

Penduduk Mesir semakin tersiksa dengan sistem pajak yang mahal dan tak adil. Sistem ini hanya menjadikan penduduk Mesir sebagai sapi perah penghasil pundi-pundi uang bagi pemerintah. Pajak primer mulai berlaku bagi mereka yang berumur mulai dari usia 14 hingga 60. Mereka juga dibebankan pajak hewan ternak, kepemilikan tanah, perabotan yang dimiliki serta pungutan liar di luar pajak sebagai uang pelicin. Bahkan bagi mereka yang akan mendapatkan warisan, harta warisan akan dipotong pajak sebelum diberikan kepada pewarisnya. Mesirpun akan dipungut pajak jika ada Kaisar yang baru diangkat sebagai hadiah pembelian mahkota. Tak hanya kaisar dan gubernur, para pegawai pemerintahan juga mewajibkan rakyat sekitar pajak khusus bagi mereka. Melihat pajak yang begitu menjerat, tak heran bila banyak penduduk yang kabur dari kota dan desa menuju padang sahara dan mengasingkan diri.

Pemerintah Romawi juga memaksa penduduk Mesir untuk menyembah dewa mereka dan menutup banyak kuil dewa Mesir. Disamping itu pemakaian huruf Hieroglif juga dilarang dan diwajibkan memakai huruf Romawi. Akibatnya huruf Hieroglif semakin dilupakan dan perlahan punah tak berbekas. Generasi selanjutnya benar-benar tidak lagi bisa membaca tulisan warisan nenek moyang mereka yang terpahat di kuil-kuil kuno.

Setelah kedatangan Holy Family, Nabi Isa Kecil, Sayyidah Maryam dan Yusuf al-Najjar ke Mesir yang berlindung dari kejaran tentara Romawi di Palestinan. Agama Kristen perlahan mulai menggantikan dewa penduduk Mesir. Pemerintah Romawi yang saat itu masih paganis, menurunkan titah penyiksaan bagi siapa saja yang memeluk Kristen. Penindasan menjadi makanan sehari-hari bagi penduduk Mesir dan tiang salib sebagai pusara terakhir bagi mereka yang bersikukuh dalam iman kekristenannya. Namun penyiksaan ini membuat agama Kristen semakin menyebar luas di Mesir. Sehingga masa ini disebut 'Ashr al-Syuhada[7].

Angin segar akhirnya bisa dirasakan penduduk Mesir manakala Kaisar Konstantin Agung (306-337M) memperbolehkan Kristen di negara jajahan Romawi termasuk Mesir. Selanjutnya disusul kebahagiaan di era Kaisar Theodosius I (379-395M) yang menurunkan titah dan menetapkan Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi. Namun kebahagiaan kaum Nasrani Mesir tak berlansung lama ketika terjadi perbedaan pandang tentang tabiat Yesus pecah. Ada kelompok yang berpendapat bahwa Yesus memiliki dua tabiat, Ketuhanan dan manusiawi (الهية و بشرية). Sedangkan lainnya memandang Yesus hanya memiliki satu tabiat yaitu ketuhanan saja (الهية واحدة). Kisruh perbedaan pandang ini semakin memanas setelah sampai pada meja para Patriach di Dewan Gereja. Hal ini berujung pada keputusan Dewan Gereja Khalqiduniyah[8] tahun 451M untuk memisahkan gereja yang bermazhab dua tabiat dan lainnya satu tabiat. Dalam perbedaan pandang ini, Dewan Gereja Negara konstantinopel mengambil mazhab dua tabiat. Sedangkan Dewan Gereja Mesir tetap berpegang teguh pada pandangan satu tabiat. Lalu muncul keputusan dari Kontantinopel bahwa penganut satu tabiat adalah kafir dan sesat[9]. Sejak saat itu, orang Koptik kembali menerima siksaan yang sama saat Romawi masih pagan. Sehingga banyak para pendeta Koptik yang mengasingkan diri ke daerah terpencil di Sahara. Salah satunya adalah Pendeta Benyamin yang mengungsi ke Sahara bagian barat.

B.     Jatuhnya Mesir ke pangkuan Islam
Kekalahan total tentara Romawi di pertempuran Abbasiyah membuka mata mereka akan kekuatan Muslim yang patut diperhitungkan. Apalagi setelah Benteng mereka terkepung dan politik diplomasi mereka menemui jalan buntu. Sebelumnya pihak Romawi mengundang delegasi Muslim untuk merundingkan perdamaian dan genjatan senjata di pulau Raudhah. Romawi yang diwakili Muqauqis meminta pasukan muslim menghentikan embargo Babylon dan pergi dari Mesir. Sebagai ganti dia akan memberikan 2 dinar kepada setiap tentara, 100 dinar kepada setiap komandan dan 1000 dinar untuk Sang Khalifah. Namun Ubadah bin Shamit sebagai delegasi Muslim dengan tegas mengatakan :

"فليس بيننا وبينك خلصة نقبلها منك ولانجيبك اليها الا خلصة من ثلاث(الاسلام-الجزية-القتال), فاختر أيتها شئت, ولاتطمع نفسك فى الباطل, بذلك أمرنى الأمير, وبها أمره أميرالمؤمنين, وهو عهد رسول الله (عليه الصلاة والسلام) من قبله الينا."

Medengar jawaban Ubadah, harapan Muqauqis sirna. Apalagi setelah Dewan Konsulat Romawi menolak pilihan Islam maupun Jizyah sebagai solusi damai. Kondisi Romawi yang lebih memilih pedang, memaksa tentara Muslim melanjutkan pengepungan dan penyerangan benteng Babylon. Pengepungan yang berlangsung lama hampir 7 bulan, membuat Babylon hampir kehabisan persediaan makanan. Tenaga para tentara yang ada di dalam benteng juga semakin melemah dengan hilangnya semangat mereka. Namun kondisi sebaliknya terjadi di luar benteng. Pasukan Muslin semakin bertambah semangat juangnya dari hari ke hari. Bahkan atas persetujuan Pangslima Amr, Zubair bin Awwan siap berkorban untuk menjadi jalan pembuka benteng. Dengan keahliannya, ia membuat tangga dan menyusup ke dalam benteng saat penjaga benteng terlelap di tengah malam. Dengan sigap ia membuka benteng bagian barat daya. Segera pasukan muslim menghujani panah pasukan yang menyerang. Benteng hampir dikuasai pasukan muslim saat fajar mulai terbit. Namun Jendral George pemegang Babylon yang melihat pasukannya hampir kalah, segera mengirim utusan ke Amr bin Ash untuk berdamai. Dari hasil perundingan, permintaan genjatan senjata diterima dengan syarat :

1.      Pasukan tentara Romawi segera meninggalkan benteng dalam tempo 3 hari.
2.      Segera meninggalkan Babylon lewat jalan sungai. Serta membawa bekal makanan yang cukup untuk perjalanan.
3.      Benteng dan semua peralatan di dalamnya menjadi hak milik kaum muslim.
Jatuhnya Benteng Babylon tepat pada hari Jumat, 6 April 641 M[10], menjadi awal masuknya Mesir ke dalam pangkuan Islam. Tepat hari Senin, pasukan Romawi meninggalkan benteng Babylon dan pulau Roudhah menuju Alexandria. Kemudian setelah kota pertahanan terakhir Romawi di Mesir, Alexandria dikepung. Tepat pada awal November di tahun yang sama, Muqauqis dan Herkulanus sebagai konsul Konstantinopel atas Mesir menyatakan gencatan senjata dan menyerah. Pasukan Muslim menyetujui dengan syarat:

1.      Membayar Jizyah bagi siapa saja yang termasuk dalam perjanjian
2.      Masa genjatan senjata (الهدنة) berlangsung selama 11 bulan. Orang Romawi harus meninggalkan Mesir, baik lewat jalan laut ataupun darat dengan ketentuan khusus.
3.       Pasukan muslim harus tetap di posisi awal mereka  dan tidak boleh menyerang Alexandria selama masa gencatan sejata. Hal ini juga berlaku untuk pasukan Romawi.
4.      Orang Romawi diperkenankan untuk membawa  semua tentara dan harta mereka kembali ke Konstantinopel. Dan bagi mereka yang masih memilki harta yang tertinggal, dikenakan biaya penjagaan.
5.      Tertara Romawi dilarang kembali ke Mesir, apalagi mencoba mengambil alih kembali.
6.      Umat Muslim tidak akan ikut campur dalam urusan keagamaan yang berhubungan dengan gereja.
7.      Memperbolehkan orang Yahudi untuk tetap tinggal di Alexandria.
8.      Romawi diharuskan mengirim 150 tentara dan 50 orang dari para administrator dan pendeta untuk mengurus Alexandria selama masa gencatan senjata.
Setelah 11 bulan pengepungan dan penaklukan daerah di delta dan bagian tengah Mesir. Negeri Lembah Nil yang membentang dari Nubia hingga ke Alexandria resmi menjadi bagian dari Kekhalifahan Islam.

Kemenangan umat Islam disambut gembira penduduk Mesir yang telah kenyang dengan kekejaman Romawi dari generasi ke generasi selama 6 abad. Mereka tidak dipaksa untuk masuk Islam. Bahkan mendapat kebebasan dan jaminan keamanan untuk kembali menjalankan Kristen dengan mazhab mereka yakini. Pemerintah Islam juga menyerahkan sepenuhnya urusan gereja kepada Dewan Gereja yang berwenang. Para pendeta yang mengasingkan diri di gurun sahara berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Termasuk pembesar Koptik Benyamin yang kembali ke Alexandria setelah puluhan tahun dalam pengungsian di barat sahara demi menghindari siksaan pemerintah Romawi. Mereka semakin bergembira manakala harta milik mereka yang dirampas pemerintah dikembalikan. Serta pajak ala Romawi yang selama ini menjerat mereka dihilangkan dan hanya diganti Jizyah serta pajak kepemilikan.

C.     Pembangunan Fustat dan pembagian demografisnya
Setelah urusan pemindahan kekuasaan dan masa gencatan senjata berakhir dengan hengkangnya Romawi dari Mesir. Tahun 641 M (21H), Amr bin Ash menetapkan lokasi pembangunan Ibukota Islam di Mesir berlokasi di timur benteng Romawi atau  bekas tempat penempatan pasukan Muslim saat pengepungan Babylon dulu. Ibukota baru ini dinamakan Fustat[11]. Kota Islam pertama di Afrika ini dibangun dengan penataan mirip kota yang berada di Jazirah Arab bagian selatan, mengikuti gaya Makkah dan Shan'a, Yaman[12]. Sama seperti tradisi umat Islam di daerah futuhat lainnya, masjid merupakan bangunan awal sebagai pondasi utama kota baru Islam. Amr bin Ash memerintahkan pembangunan Masjid sebagai pusat dakwah dan pembelajaran. Disusul pembangunan rumah  sahabat Amr terletak di sisi timur masjid yang disebut dengan Dar Amr al-Kubra sebagai pusat pemerintahan. Kemudian para sahabat, prajurit dan orang Arab yang ikut perang diizinkan membangun pemukiman di sekitar masjid. Sebagai perwakilan dari para kabilah, Amr bin Ash menyerahkan pembagian kawasannya kepada para pembesar kabilah, seperti; Muawiyah bin Hadij al-Tajiby, Syuraik bin Sama al-Ghathify al-Murady, Amr bin Qahzum al-Khulany dan Hayawil bin Nasyirah al-Ma'afiry. Berikut 3 jenis pembagian demografis pada awal pembangunan Fustat :


Penulis di reruntuhan Ibu Kota Islam pertama Afrika, Fustat.
1.      Khathath (الخطط) : penempatan penduduk berdasarkan nama Kabilah tertentu, antara lain Quraisy, Anshar, Khuza'ah, Aslam, Ghaffar, Muzaynah, Asyja', Juhainah, Tsaqifah dll. Konsep ini berlaku untuk kawasan yang sebelumnya kosong lalu dibangun kota. Dalam contoh kasus seperti Fustat dan Giza.
2.      Akha'id (الأخائد) : Jika khattat berlaku di Fustat dan Giza, maka sistem akha'id berlaku di Alexandria. Sistem ini dibagi menjadi 2, yaitu apa yang disebut Ibtidar(الابتدار) atau memberikan tempat tinggal kepada tentara yang pertama kali menempati rumah-rumah di luar benteng kota Alexandria yang ditinggalkan saat pengepungan kota. Karena waktu itu belum ada pembagian tempat tinggal di Alexandria. Sedangkan yang kedua disebut Takhshihs (التخصيص) atau pembagian tempat tinggal pasca pengepungan dan penempatan rumah langsung ditunjuk oleh pemerintah.
3.      Qatha'I (القطائع) : adalah tanah yang diberikan sebagai hadiah di bawah wewenang langsung dari pemerintah. Seperti apa yang diriwayatkan Ibnu Abdul Hakam bahwa Khalifah Umar memberikan kepada Ibnu Sandar sepetak lahan di Minyah al-Ashbagh.
Letak Fustat yang berada di bibir sungai Nil, membuat ekonominya berkembang pesat. Ditambah kawasan ini sejak zaman Firaun, Yunani dan terakhir Romawi telah menjadi mata rantai jalur perdagangan antara Mediterania dan Afrika. Kemakmuran kota Fustat menjadi magnet yang kuat bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih baik. Banyak kabilah Arab yang bermigrasi dari Jazirah Arab dan Syam untuk menetap di Mesir. Kondisi ini membuat demografis Fustat meluas dengan sendirinya. Geliatnya semakin terlihat manakala Fustat bertranformasi menjadi kota industry pertama di benua Afrika. Komoditi seperti keramik, gerabah, tenun dan karpet merupakan barang dagangan andalan yang diburu konsumen di kawasan Mediterania. Masjid Jami yang dibangun tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan sebagai pusat kajian dan pembelajaran agama. Pada masa selanjutnya muncul berbagai macam kajian dan masyayikh memenuhi ruwaq-ruwaq Jami al-Atiq ini. Antara lain kajian tafsir, hadits, fiqh, akidah dan disiplin ilmu lainnya.

D.    Riwayat Masjid Amr bin Ash dari pembangunan hingga pemusnahannya.
1.     Masjid Amr bin Ash pada awal pembangunan
Membincang tersebarnya Islam di Mesir dan Afrika tak bisa terlepas dari peran Masjid Amr bin Ash sebagai media penyiaran dan dakwah saat itu. Masjid ini merupakan masjid pertama sekaligus peninggalan Islam tertua di Mesir dan benua Afrika. Sahabat Amr bin Ash memerintahkan membangun masjid ini dekat dengan sungai Nil. Lokasi awal masjid hanya berjarak 200m dari pesisir Timur sungai Nil. Namun karena perpindahan aliran sungai saat ini letaknya lebih dari 500m dari sungai Nil.

Pada awal dibangunya, arsitekturnya masjid masih sangat sederhana. Bagian kiblatnya berupa tembok memanjang sepanjang 50 dzira' dengan lebar 30 dzira'[13]. Tiangnya masih menggunakan batang pohon Kurma dan sebagian dengan batu susun berlapis semen. Begitu juga atapnya yang masih berbalut pelepah kurma yang dirangkai dengan bilah papan kayu. Lantainya masih berbentuk tanah yang dipadatkan dan dicampur aspal, belum ada mihrab menjorok, menara adzan apalagi shahn[14]. Masjid Amr dibangun dengan 6 pintu, dua berada di sisi timur, dua di bagian utara dan sisanya di barat yang menghadap ke sungai Nil.
Saat itu penetuan arah kiblat ditetapkan dengan musyawarah 80 sahabat yang ikut serta dalam penaklukan Mesir. Antara lain Zubair bin Awwam, Ubadah bin shamit, Miqdad bin Aswad, Abu Darda, Abu Dzar al-Ghifary, Abu Bashrah al-Ghifary, Uqbah bin 'Amir al-Juhny dan puluhan sahabat lainnya.

2.     Masa Dinasti umayah
Pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi sufyan renovasi besar-besarn terhadap masjid Amr bin Ash dimulai. Apalagi setelah orang-orang mengeluh dengan semakin sempitnya masjid akibat banyaknya bangsa Arab pendatang dan orang Koptik yang masuk Islam[15]. Kemudian Maslamah bin Mukhallad sebgai gubernur Mesir satu mulai melakukan perluasan terhadap Jami al-'Atiq tahun 672M/53H. Pemugaran dimulai dengan memperluas bagian timur, utara dan barat laut. Ditambah pada masa ini aliran sungai Nil menjauh ke barat, sehingga memudahkan perluasan bagian barat masjid. Untuk pertama kalinya lantai masjid diblok dengan batu. Gubernur juga membangun ruang memanjang berbentuk menara di pojok keempat penjuru masjid sebagai tempat muadzin. Dari bangunan panjang ini menjadi awal lahirnya menara masjid di mesir.

Datang masa letika gubernur Mesir dijabat oleh Abdul Aziz bin Marwan yang ditunjuk oleh Abdul Malik bin Marwan  sebagai khalifah Umayah saat itu sekaligus saudaranya. Pada tahun 698M/ 79H Abdul Aziz melakukan pembongkaran untuk dibangun ulang. Perluasan difokuskan kea rah barat dan utara masjid. Sedangkan bagian timur dibiarkan karena berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk. Kemudian masa saat Abdullah bin Abdul Malik menjabat gubernur tahun 707M/89H. pada masanya atap masjid ditinggikan karena sebelumnya kontur pondasi masjid mengalami penurunan tanah.

Tiga tahun setelahnya, giliran Qurrah bin Syuraik menjadi gubernur Mesir tahun 710M/92H. Pada masanya bagian selatan masjid diperluas untuk pertama kalinya, begitu pula bagian timur masjid. Bekas rumah Amr bin Ash dan anaknya Abdullah dimasukan menjadi bagian masjid. Jika pendahulunya Maslamah bin Mukhalad menambahkan unsur arsitektur berupa menara adzan. Qurrah berjasa menambahkan mihrab berongga meniru apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat memugar Masjid Nabawi di Madinah pada 706M. Ia juga menyepuh tiang utama di depan mihrab dengan emas murni, menambah pintu masjid menjadi 11 pintu, menempatkan mimbar kayu serta memluruskan arah kiblat yang semula lebih condong ke timur. Perubahan besar arsitekture masjid untuk pertama kalinya terjadi pada masa ini.

3.     Masa Dinasti Abbasiyah
Berakhirnya kekuasaan Umayah di tangan Abbasiyah secara otomatis Mesir menjadi bagian wilayah Abbasiyah. Pada masa gubernur Shalih bin Ali tahun 750M/133H, Masjid diperluas lagi ke bagian timur. Sehingga rumah Zubair bin Awwam dibongkar dan dimasukan sebagai tanah masjid. Selain itu pintu masjid bagian timur untuk pertama kalinya diganti dengan pintu besi.

Pada masa Harun al-Rasyid, jabatan gubernur Mesir dipegang oleh Musa bin Isa. Pada tahun 791M/175H, bagian  utara serta timur masjid kembali diperluas dan dimasukannya Ruhbat Abi Ayyub menjadi bagian masjid. Luas masjid Amr bin Ash pada masa gubernur Musa adalah sama dengan setengah luas masjid saat ini.

Jika Musa bin Isa memperluas bagian utara dan timur. Maka pada tahun 827M/212H gubernur tunjukan Khalifah al-Ma'mun saat itu, Abdullah bin Dzahir memperluas sisi selatan dan barat masjid. Hingga pada eranya perluasan masjid berhenti dan luas masjid zamannya sama dengan luas masjid saat ini.

4.     Masa Dinasti Thuluniyah
Pada masa Khumaruwiyah putra Ahmad bin Thulun kebakaran hebat melanda masjid Amr bin Ash pada Safar tahun 888M/275H. Si jago merah dengan cepat melahap bagian perluasan Abdullah bin Dzahir. Sehingga Khumaruwiyah menugaskan gubernur Ahmad bin Muhammad al-Ajify untuk merenovasi bagian masjid yang terbakar.

5.     Masa Dinasti Ikhsyidiyah
Pada masa Ikhsyidiyah, pemerintah melakukan perombakan besar pada tiang lama dan menggantinya dengan tiang marmer yang ujungnya diukir dengan indah. Hal ini diutarakan pengelana Maqdisy Bisyari dalam memoarnya berjudul Ahsan al-Taqasim fi Ma'rifat al-Aqalim saat mengunjungi Masjid Amr bin Ash tahun 985M. Ia mengungkapkan,"Masjidnya merupakan bagunan yang begitu memukau. Bagian dindingnya dihiasi mozaik yang sangat mengesankan berpadu indah dengan tiang marmer yang bermahkota ukiran-ukiran masa silam. Masjid ini lebih megah dibandingkan Masjid Damaskus."

6.     Masa Dinasti Fatimiyah
Pada masa pemerintahan Khalifah al-Aziz billah. Tahun 988M memerintahkan wazirnya, Abu Farj Ya'qub bin Killis untuk merenovasi kubah baitul Mal masjid serta membuat mimbar baru yang disepuh emas.

Tak kalah dengan ayahnya, Khalifah al-Hakim biamrillah memerintahkan wazirnya Bargwan untuk memperindah masjid dan memperbaiki bagian yang rusak. Selesai renovasi sang wazir menuliskan namanya di papan marmer dan di temple di kelima pintu bagian timur. Namun setelah sang Amir meninggal, khalifah memerintahkan untuk mencopot nama wazir yang menempel pada dinding timur. Pada bulan Ramadhan 403H/ 1013M, al-Hakim memerintahkan untuk membawa ribuan mushaf milik Istana Timur untuk diwakafkan kepada Masjid Amr bin Ash. Seperti yang dikisahkan oleh penjelajah Persia, Nashir Khosru dalam bukunya Safarnama ketika mengunjungi Masjid Amr:

"Di dalam masjid terdapat 1298 Mushaf yang ditulis dengan tinta emas. Khalifah al-Hakim bi Amrillah yang memerintahkan pewakafan ribuan mushaf dari Qasr Syarqy untuk Jami' Atiq pada Ramadhan tahun 403 H."

Tiba masa Khalifah al-mustanshir billah memerintahkan untuk merenovasi mihrab besar, serta menyepuh bagian dalamnya dengan perak. Tak hanya itu khalifah juga memerintahkan menyepuh emas dinding kiblat dan memerintahkan wazirnya, Afdhal Syahinsyah untuk membangun menara besar bernama Mi'dzanah Sa'idah pada 1121M.

Pada masa Fatimiyah pembangunan Masjid Amr bin Ash mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang arsitekturnya. Para sejarawan menyebutnya sebagai masa keemasan. Namun anehnya Masjid Amr bin Ash dan kota Fustat justru menemui nestapa kehancurannya pada masa Fatimiyah.

Kisruh politik dan perebutan kekuasaan adalah penyebab kehancuran kota Fustat dan masjidnya. Saat itu setelah wazir Syawar menyingkirkan rivalnya, kini giliran khalifah al-Adhid menjadi sasaran selanjutnya. Negara berhasil dikuasai Syawar, sehingga Khalifah hanya dijadikan boneka politik. Sadar akan posisinya yang tidak menguntungkan, al-'Adhid meminta bantuan Amir Asaduddin Syirkuh dari Syam untuk menyingkirkan Syawar. Namun Wazir yang merangkap sebagai khalifah ini tak tinggal diam dan bekerja sama dengan pasukan Salib yang telah menguasai daerah Palestina. Namun kelicikan taktik Syawar tercium.  Pasukan Salib saat itu telah menguasai delta Mesir bagian timur dan mendirikan barak tentaranya di Blibis. Merasa dipermainkan Syawar, pasukan Salib segera melancarkan serangan ke Kairo. Melihat kota Fustat yang begitu besar tanpa benteng, ia mengambil keputusan untuk membakar habis seluruh kota Fustat beserta isinya, termasuk masjid Amr bin Ash tahun 1168M/564H. Tujuan Syawar hanya satu supaya kota tak dikuasai tenntara Salib. Lalu sebagian penduduk berhasil mengungsi ke dalam benteng Kairo dan sebagian lainnya meninggal terbunuh. Kota Fustat dan sekitarnya dilalap hebat oleh si jago merah. Api menyala selama 54 hari tanpa sedikitpun padam. Semua bangunan megah Fustat dan Masjidnya runtuh. Kini hanya kenagan dan cerita indah yang tersisa, selain tumpukan batu bata dan tiang marmer yang gosong.

Penutup

Sudah menjadi sunnatullah bahwa sejarah selalu berulang. Kisruh politik selalu menghancurkan maha karya peradaban manusia. Bahkan demi politik manusia rela menumpahkan darah sesamanya. Tidak ada musuh dan teman yang abadi, yang ada kepentingan Abadi. Semoga kita tak hanya bisa membaca sejarah dari nama, tanggal dan tempatnya, melainkan bisa memetik buah hikmahnya untuk pelajaran di masa mendatang. Atas Inayah-Nya, paper ini selesai pada hari Jumat. Semoga bermanfaat.

Bagi Pembaca yang ingin memiliki salinan PDF artikel ini, Silahkan diunduh disini


Muhammad, Pemandu Situs sedang menjelaskan Sejarah Kota Fustat .
Struktur rumah penduduk Fustat yang dibumihanguskan Wazir Syawar
Daftar Pustaka
·         Al-Syahry, Muhammad Ahmad. 2013. Dirasaat fi Tarik Masr al-Islamiyah. Kairo: Al-Azhar university Press.
·         William , Caroline. 2008. Islamic Monuments in Cairo. Kairo: AUC Press.
·         Spencer, Jeffrey.1996. The British Museum Book of Ancient Egypt. London: British Museum Press.
·         Al-Barry, Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Penerbit Arkola.
·         Al-Hafnawy, Samir. 2014. Jaulat al-Shahabah wa al-Tabiin fi Ardh Mas. Kairo: Maktabah Rahmah.


[1] Disarikan oleh Miftah Wibowo dari berbagai sumber. Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Tarikh wal Khadharah Islamiyah di Universitas Al-Azhar. Paper ini ditulis sebagai materi pendukung kajian lapangan Kupretist du Caire ke-2 (Jumat,14 Agustus 2015).
[2] Ucapan Khalifah Umar bin Khattab kepada Sahabat Amr bin Ash ketika di Jabiyah.
[3] (أم دنين)Daerah ini sekarang bernama Azbakiyah. Dahulu tepi sungai Nil tepat di daerah ini sebelum akhirnya menjauh ke arah barat.
[4] Muqattam (جبل مقطم) merupakan kumpulan bukit di bagian timur kota Kairo. Selain bersejarah, bukit ini dianggap suci oleh umat Kristen Ortodhox Mesir (Koptik).
[5] Benteng Babylon mencakup kawasan Masr Qadim dan bekasnya masih bisa dilihat tepat di depan stasium metro Mark Girgis.
[6] Bernama lengkap Cleopatra VII Philopator (51-30 SM). Ia merupakan penguasa ke-14, penguasa perempuan Yunani pertama dan penguasa terakhir Dinasti Ptolemy.
[7] Disebut sebagai Masa Syahid karena banyaknya Umat Kristen yang dibantai pemerintah Romawi. Sehingga pada masa selanjutnya banyak gereja dibangun dengan nama mereka yang syahid. Seperti Mark Girgis, Abu Sergah dll.
[8] Dalam istilah Barat dikenal sebagai The Council of Chalcedon (مجمع خلقدونية) yang diselenggarakan dari 8 Oktober- 1 November di Chalcedon, sebuah kota di kawasan Bithynia, Asia Minor. Sekorang kota ini dikenal dengan Kadıköy, Istanbul di Turki.
[9] Umat Kristen Mesir memandang keputusan Dewan Gereja Konstantinopel sebagai pemaksaan. Kristen Koptik berpandangan bahwa merekalah pemegang akidah yang benar tau biasa disebut Orthodox. Para penganut satu tabiat menyebut mereka sebagai Ya'qubiyin yang dinisbatkan kepada Ya'qub al-Baradi'iy sebagai Imam Besar mereka dan berasal dari kota Raha di Asia Kecil. Sedangkan kelompok bermazhab dua tabiat menyebut dirinya sebagai Malkaniyin, karena mereka mengikuti mazhab raja dan kekaisaran.
[10] Betepatang dengan Rabi' al-Tsani tahun 20 H.
[11] Ada banyak pendapat mengenai makna dari Fustat, Ada dua pendapat yang kuat. Pertama, menyebut Fustat berasal dari Bahasa Arab yang berarti kota. Merujuk pada kejadian Pertempuran Yamamah. Sedangkan pendapat kedua digadang oleh Prof. Petler, Orientalis Inggris yang mengatakan Fustat berasal dari bahasa Romawi Fossatum. Istilah ini umum bagi tentara Romawi untuk menyebut tempat dimana pasukan Arab mendirikan tenda saat pengepungan Babylon.
[12] Pendapat ini yang banyak disepakati oleh jumhur sejarawan. Salah satunya Orientalis Jerman, Adam Mez yang berpendapat Fustat dibangun dengan tata kota seperti di selatan Jazirah Arab. Selain pendapat ini ada pendapat lain yang mengatakan Fustat dibangun dengan corak Yunani seperti yang jamak di Laut Mediterania. Lalu model Babylon karena posisinya dekan dengan benteng Babylon dan yang terakhir adalah berpendapat Fustat dibangun dengan tata kota ala Persia.
[13] Sekitar 37,5m x 22,5m.
[14] Shahn (الصحن) merupakan  pelataran terbuka yang berada di tengah masjid. Seperti yang ditemukan di Masjid Amr bin Ash sekarang.
[15] Hal senada diriwayatkan oleh Imam Maqrizy dalam kitab Akhbar Masjid ahl al-Rayat karya Abu Umar al-Kindi.

Related Articles

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Semoga dalam waktu dekat bisa berkunjung dan salat disini bareng ya Rifqi ;)

      Hapus

Sahabat Blogger Miftah Wibowo