Rabu, 30 November 2016

Mencicipi Kuliner Khas Jalur Sutra, Lagman di Istanbul



Matahari mulai pulang ke peraduannya, senjanya mulai sirna dari barisan Tujuh Bukit Istanbul. Beberapa pemuda Indonesia terlihat buru-buru memasuki stasiun kereta bawah tanah Metro meninggalkan Uskudar. Rupanya angin selat Bosphorus berhembus sedikit kencang mengiringi kepergian kami dari pesisirnya. Suara pekikan burung camar putih yang terbang memenuhi langit Uskudar, berpadu lembut dengan deburan ombak Bosphorus yang airnya mengalirkan cinta dan kenangan. Sepasang muda mudi berwajah Kaukasia terlihat memadu kasih di pesisir pantai menikmati senja kala itu. Pemandangan sekilas dan dingin angin musim gugur membuat mendung hati gerombolan pemuda itu. Bahkan beberapa dari mereka hatinya telah dulu menurunkan hujan lebat sembari berdesir; masih sendiri. Dari kejauhan Bendera Kiz Kulesi -Menara Gadisterlihat melambai dan berteriak, "Sampai Jumpa". "Ya, suatu hari aku akan kembali lagi, jaga dirimu baik-baik", Teriakku membalas.


*****

Hari ini tepat setahun lebih saya pernah berkunjung ke Turki saat musim gugur tahun lalu. Saya ingin bernostalgia dan menceritakan sedikit pengalaman saat berjalan-jalan di bekas ibukota Kekaisaran Islam terakhir di dunia, Istanbul. Saya mendapatkan kesempatan itu, ketika menjadi pengiring teman-teman yang lolos mengikuti program Berani Mumtaz dari Akademia Asaduddin syirkuh. Dari sekian banyak peserta yang mendaftar program, hanya 7 orang yang lolos dan mendapatkan reward mengunjungi Turki selama seminggu. Sisanya 3 orang pengiring, ada Mas Afiat, Cak Romal dan saya sendiri. Namun saat tiket pesawat Pegasus Airlines return sudah di-booking, ternyata salah satu penerima reward menyatakan tidak bisa berangkat karena ada Ujian Remidial mendadak. Tiket yang sudah di-booking, tidak bisa diuangkan sama sekali atau sekedar diundur tanggal keberangkatan. Akhirnya kami tetap berangkat tanpa Bang +Fakhry Emil Habib . The life must go on :(

Supaya berkesan perjalanan kami, kami berangkat bukan dari Bandara Internasional Kairo, melainkan berangkat lewat Bandara Sharmu Syeikh di Semenanjung Sinai. Semenanjung ini merupakan provinsi paling timur Mesir dan berbatasan langsung dengan Gaza, kota Eliat-Palestina, Yordania dan Arab Saudi. Di dalamnya terdapat Gunung Musa yang disucikan oleh ketiga Agama Samawi. Ibarta kata sambil menyelam minum nata de coco campur sirup Marjan. Sambil ke Turki sekalian jalan-jalan ke Sinai. 


Sampailah kami di Bandara Sabiha Gokcen, Turki dini hari. kami mulai menuju pusat kota Istanbul saat fajar menyingsing. Setelah Sarapan, Ahmet Abi -(Abi ;Panggilan Mas/Saudara/Kakak dalam bahasa Turki)- membawa kami ke sebuah Makam seorang Nabi, Yusya' Namanya. Makamnya sangat indah dan asri karena letaknya di puncak bukit yang dikelilingi hutan pinus dan langsung menghadap selat Bosphorus; menakjubkan. Selesai berziarah kami di bawa ke penginapan yang terletak di Edirne Kapi. Penginapan kami terletak di luar benteng kuno Konstantinopel yang berada di sisi Eropa. Jadi secara De Facto kami sudah menginjakan kaki, tidur dan minum di Eropa wkwkw. 


Pagi di hari kedua, kami diajak untuk melihat berbagai jenis Instansi Pendidikan Islam Turki dan model kurikulum yang dipakai. Kami menyambangi Akademia Camilca dimana para Sarjana Agama mendapatkan program pembelajaran Kitab Turats secara intensif selama 2 tahun. Selesai acara resminya, kini saat berjalan-jalan. Kami memilih menikmati senja pesisir Uskudar yang terkenal romantis itu. Saking romantisnya, banyak penyair yang memuji keindahan Uskudar dalam bentuk bait-bait sastra  maupun lagu sejak zaman Utsmaniyah. Salah satu yang saya tahu, sebuah lagu berjudul "Uskudar'a Gideriken". Silahkan dilihat video dan rasakan alunan Nay-nya yang begitu mendayu.



*****
Begitu sampai di Uskudar, ternyata gambaran keromantisannya benar-benar di luar ekspektasi benak kami. Uskudar rupanya lebih romantis dari yang kami kira. Bagunan-bagunan kunonya tertata cantik berpadu aura khas Turki modern. Turki yang begitu sekuler nyatanya sangat peduli dengan khazanan Islam masa lampaunya. Sangat berbeda dengan Kairo yang begitu Islami, namun terlalu dermawan menjadikan banyak situs purbakala Islam sebagai tempat sampah umum -Sambil ngelus dada-. Di setiap sudut terlihat bendera Turki dan gambar Bapak Pebangunan, Mustafa Kemal bersanding bersama. Uskudar dalam pandangan umum saya sama seperti sudut kota Istanbul lainnya; bersih dan rapi, namun dengan nilai tambah yaitu terlalu romantis.

Berkeliling sekitar Masjid Mihrimah Pasha dan melihat-lihat beberapa produk lokal -iya, cuma lihat doang :D- cukup membuat kami puas. Raungan lirih perut kami mulai terdengar, tapi kami belum bisa makan karena belum waktunya. lalu pembimbing kami Musa Abi -Orang Turki tapi lancar Bahasa Indonesia- mengajak kami duduk dan ngobrol di sekitar pesisir pantai. Dari kejauhan menara Kiz Kulesi berdiri gagah di tengah selat Bosphorus. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Utsmaniyah, Uskudar dan isu-isu terkini seputar Turki. Tak terasa matahari mulai kembali dalam peraduan. Angin senja yang sepoi kini berubah dingin menusuk. Beberapa muda mudi yang sedang memadu kasih di sekitar kami sedari tadi, masing-masing mulai berpelukan erat. Bagi mereka, mungkin ini adalah momen paling romantis dan di tempat romantis dalam hidup mereka. Tapi kisah ini tak berlaku bagi kami. Bagi para bujang lapuk yang sedari tadi terpaksa melihat kemesraan mereka, hanya bisa mengutuk diri dan berpelukan erat dengan tas masing-masing sekedar mengusir dingin dan rasa yang pernah ada #Ehh.

Lampu jalanan Uskudar mulai menyala. Dari kejauhan, Kiz Kulesi mulai berpendar memancarkan warna kuning keemasan. Ini berarti waktu makan malam telah tiba. Sesi yang ditunggu-tunggu datang, waktunya wisata kuliner. Musa Abi rencananya membawa kami mencicipi makanan khas Jalur Sutra. Untuk menikmati kuliner ini, kita harus menyebrang ke Sisi Eropa, tepatnya di Aksaray. Kami memilih memakai kereta bawah tanah semacam metro di Kairo. Jalaur bawah laut Bosphorus ini menghubungkan antara bagian Asia dan Eropa kota Istanbul. Sampai di Aksaray, secara umum kawasan ini mirip China Town karena banyak restauran Uyghur yang bertebaran sepanjang jalan. 

Uyghur merupakan nama suku  muslim yang berasal dari provinsi barat Cina. Jika ditelusuri lewat genealogi ras, Suku Uyghur bukan bagian dari suku-suku Cina, melainkan mereka masih satu keturunan dekat dengan orang Kazaks, Kyrgiz, Uzbek, Turkmen, Azerbaijan, Armen dan Turki sendiri. Saking kentalnya budaya Turkic (sebutan bagi rumpun Turki), orang Uyghur menamakan tanah kelahiran mereka sebagai Doğu Türkistan -Negeri Turki Timur-. Dalam peta perdagangan kuno, Jalur Sutra membentang dari Cina di Timur hingga Konstantinopel, ibukota Imperium Besar Romawi di Barat. Urumqi -Ibukota Uyghur- yang terletak di tengah jalur sibuk kuno tersebut, sejak dulu telah mampu mendirikan Khanet -Semacam kekaisaran kecil- sendiri. Bahkan setelah jatuhnya Mongol dan berlanjut hingga akhir abad 19. Kemudian di Abad 20, Uyghur diinvansi oleh Cina dan dimasukan ke dalam gambar peta RRC. Karena dilewati jalur perdagangan Timur-Barat Internasional, Urumqi menjadi salah satu pusat peradaban makmur di zamannya. Letaknya yang strategis di jalur persinggahan kafilah dagang membuat budaya kuliner Uyghur berkembang pesat. Cita Rasa Oriental Timur Cina berpadu dengan olahan danging khas para pengembara stepa Siberia. Salah satu makanan Uyghur yang terkenal di sepanjang jalur sutra adalah Mie Laghman. 

Setelah melihat-lihat cukup lama dan kedinginan di jalanan Aksaray, akhirnya kami sampai pada sebuah kedai Uyghur yang menyuguhkan Mie Laghman. Tempatnya sederhana, namun didesain dengan rapih dan elegan serta ditambah konsep lampu yang tepat, restauran ini mampu menciptakan pengalaman makan malam yang berkesan. 

Kami pun memesan, sebagian memesan Laghman goreng, sisanya Laghman berkuah. Sambil menunggu kami bisa menikmati secangkir Çay Turki hangat yang disediakan. Beberapa kawan gasak gusuk ribut ingin bertanya, "Apakah ada Wifi?" Ternyata ada. Obrolan yang berlangsung asik ditemani Teh Turki, pela-pelan lenyap ditelan Wifi. Semua orang khusyu' dengan dunia mereka sendiri; generasi merunduk :D. Hanya Mas Afiat dan Musa Abi yang masih asik melanjutkan obrolan tanpa tergoda kehadiran wifi sedetikpun, hingga pesanan Laghman kami sudah berpose cantik di depan mata masing-masing.

"Afiat Olsun" -Selamat Makan-, Ucap kami bersama-sama selepas berdoa. Suapan demi suapan mengobati kelaparan kami. Saya perhatikan, saat makan kawan-kawan nyaris tanpa ada suara yang terdengar -sunyi-. Kelelahan kami berkeliling, rasa lapar sejak tadi dan pemandangan di sepanjang Uskudar yang bikin baper, rupanya dibasuh habis oleh Laghman hangat yang aduhai rasanya.

Kalau diperhatikan sejenak, tampilan luar Laghman mirip Mie Cina pada umumnya. hampir mirip Mie Ayam punya kita. Tapi bedanya Laghman, mie yang dipakai rata-rata buatan tangan langsung, bukan produk pabrik. Selain itu, Laghman juga menggunakan banyak daging sapi yang dipadu bumbu khas Uyghur dengan banyak lada merah dan beberapa rempah hangat seperti kayu manis, star anise dan teman-temannya. Penggunaan banyak lada merah dan rempah bisa dimaklumi, melihat medan geografis jalur sutra yang cenderung ekstrim, Kadang pengunungan bersalju, lalu berubah menjadi gurun panas yang gersang. Oleh karenanya laghman disajikan dengan porsi besar untuk memenuhi kebutuhan tenaga dan menjaga tubuh para Kafilah dagang tetap hangat saat melintasi daerah dingin Siberia.

Beberapa kawan ternyata ada yang tidak bisa menghabiskan makanannya karena porsi terlalu besar. Beberapa merasa belum cocok dengan bumbunya. Kalau saya pribadi sudah cocok dengan Laghman. Karena di kairo saya tinggal dengan beberapa kawan dari Tajik, Kyrgiz dan Mongolia. Sehingga mampu beradaptasi dengan bumbunya. Itung-itung bertukar budaya dan kuliner, sekalian mengenalkan budaya dan kuliner Indonesia kepada mereka. Jadi jika datang ke Istanbul, jangan lupa mencoba Mie Laghman di Aksaray. Selamat Berwisata kuliner :)



Kawan-kawan yang kedinginan karena salah kostum, ternyata musim gugur Istanbul lebih dingin dari kairo.


Pemandangan selat Bosphorus dan sisi Eropa kota Istanbul dari Makam Nabi Yusya'. As.


Jalanan Uskudar yang sibuk


Ini bujang-bujang yang saya ceritakan :D dari kiri ke kanan; Ada Uda Wahyudi, Cak Romal, Uda Ghani dan Bang Zahid.




Penampakan Lagman Goreng yang menggoda dan segelas Cay hangat



Cerianya Mas Afi dan Teman-teman saat menyantap Lagman
Sampai Cak Romal dan Agung tak mau melewatkan setiap gigitannya.

Selasa, 29 November 2016

Panduan Membaca Catatan Miftah Wibowo

Setelah mengetahui riwayat Miftah Wibowo dan inspirasinya menulis. Sekarang waktunya Pembaca yang budiman untuk sejenak Blogwalking, melihat dan mengetahui menu yang disajikan dalam blog ini. Supaya pembaca tahu jenis kategori yang disediakan dan mudah dalam memilih tulisan. Ulasan ini saya buat sebagai panduan menyusuri semak belukar Catatan ini, supaya pembaca nantinya tidak tersandung, tersesat kehilangan arah jalan pulang maupun jatuh hati tiba-tiba kepada penulisnya 😆😆😆

Beberapa kawan sesama Blogger yang tulisannya cukup bermanfaat, berbobot dan renyah bahasanya, kurang memperhatikan sisi kerapihan dan estetika tampilan blognya. Dengan membiarkan tata letaknya semerawut, bahkan postingannya tanpa kategori dan main menu. Ini jelas sangat menyulitkan para pembaca yang datang dalam memilih bacaan yang diinginkan. Bahkan iklan peninggi badan - saya yakin-  enggan untuk numpang iklan maupun sekedar mampir di blognya. 

Saya jadi ingat wasiat guru IT di Aliayah dulu -Cak Novi-  yang memberi pesan saat saya pertama kali baru nge-blog. Dia berwasiat bahwa selain kuwalitas tulisan yang perlu diperhatikan, tampilan blog yang rapi juga turut membantu meningkatkan perfoma dan kenyamanan pembaca. Tentu, kesan pertama sangat menentukan dan harus mampu memikat pembaca. Syukur, bila sang pembaca mampir lagi, menjadi pelanggan setia dan bisa sharing satu sama lain. Namun jika tampilan blognya berantakan dan penuh sarang laba-laba, ini jelas akan membuat pembaca dan tamu yang datang kurang nyaman. Apabila dimisalkan, blog yang kurang rapi itu seperti restoran tanpa menu pilihan. Ini akan membuat bingung orang yang pertama kali datang dalam memilih makanan yang diinginkan. 

Selain tampilan yang perlu diperhatikan, menulis secara berkala dan rutin juga menjadi jamu ampuh untuk menyegarkan blog itu sendiri. Kegiatan yang banyak bukan menjadi alasan yang dibenarkan untuk absen dari menulis. Justru dari banyaknya kegiatan yang dikuti, muncul banyak inspirasi dan ide untuk menulis suatu tema yang nantinya bisa bermanfaat untuk orang lain. Apalagi jika Anda sekalian termasuk seorang santri, pelajar maupun mahasiswa yang punya tanggung jawab akademis melanjutkan estafet keilmuan. Menulis bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban dan amanah yang harus diemban. Karena jika sering menulis, secara otomatis kita akan mendapatkan dua keuntungan. Pertama; tulisan kita akan semakin rapih susunan bahasanya dan kedua; kita akan menemukan gaya tulisan yang menjadi ciri khas kita dengan sendirinya. 
Berikut adalah pandauan daftar menu yang disediakan dalam blog ini :


1. Beranda
Di beranda ini kita bisa berkenalan dulu dengan penulis, menu tulisan apa yang disuguhkan hingga bernostalgia dengan kehidupan ala Santri di Pesantren. 
-Tentang Penulis; berisi profil Miftah Wibowo dan inspirasinya menulis. 
-Menu Blog; Meliputi berbagai menu yang disediakan atau bahasa mudahnya navigasi dalam mengarungi rimba catatan ini wkwkwk
-Dunia Santri;  Sub menu ini berisi link yang akan mengantarkan anda kepada Catatan Miftah Wibowo ketika sedang mondok di Ponpes Al Hikmah 2, Benda, Brebes – Jawa Tengah.


2. Mahasiswa
Menu ini seperti namanya, saya dedikasikan untuk merekam kegiatan akdemis saya di kuliah maupun yang berkaitan dengannya. Ada 4 sub menu yang disediakan, antara lain:

-Kuliah; di label ini, para pembaca akan saya ajak belajar bersama menyelami khazanah sejarah, peradaban dan budaya Islam. Semua tulisan merupakan ringkasan dari kuliah yang saya dapat di Kampus. Kebetulan saya memilih prodi yang tak banyak pelajar Mahasiswa Indonesia –Bahkan Mahasiwa Asing- berminat disana. Namanya Prodi Sejarah Peradaban Islam (قسم التاريخ و الحضارة الإسلامية). selain itu, ada satu prodi lagi yang masih bersaudara dan satu fakultas adalah Prodi Sastra (قسم الأدب) atau lebih dikenal dengan Syu'bah Ammah. Prodi yang pertama jumlah orang Indonesia sangat sedikit, tapi prodi yang terakhir  memiliki cukup banyak mahasisiwa dari Indonesia. Keduanya masih berada di bawah naugan Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al Azhar. Jika dibandingan dengan Fak, Ushuludin dan Syariah Islamiyah, jumlah mahasiswa Indonesia di Fak. Bahasa Arab bisa dibilang masih sedikit. Banyak Mahasiswa beranggapan bahwa Fakultas Bahasa Arab merupakan  Fakultas tersulit di Al Azhar. Apalagi jika ditambah masuk ke prodi sejarah yang kita perlu banyak belajar istilah dan perbendaharaan kata dari disiplin ilmu baru, -plus- dengan bahasa Arab. Nyeseknya lagi, ternyata masih banyak mahasiswa Indonesia di Mesir atau jamaknya kita sebut Masisir, yang belum tahu kalau di Al Azhar ada prodi ini. Selanjutnya tentang Prodi ini akan saya jelaskan ditulisan mendatang.

-Talaqi; Nah kalau tadi isinya serba serbi kampus, sekarang kita masuk ke dunia pengajian. Di label Talaqi, pembaca akan disuguhi ringkasan pengajian dari serambi masjid Al Azhar,  Madiyafah dan tempat majlis ilmu lainnya. Sebagai gambaran umum, -Talaqi- merupakan istilah yang dipakai oleh Mahasantri Al Azhar untuk kegiatan pengajian yang ada di Masjid Al Azhar maupun tempat sekitarnya yang diisi oleh Para Ulama Al Azhar. Untuk metodenya, Al Azhar menggunakan metode –sorogan- yang jamak digunakan oleh Santri di Nusantara. Dimana seorang guru membaca kitab yang dikaji, lalu di akhir pengajian para murid diberi kesempatan bertanya dan berdiskusi beberapa hal yang belum dipahami. Satu hal yang istimewa dari Al Azhar, jika sebuah kitab selesai dikaji maka sang Guru akan memberikan ijazah berupa sanad keilmuan. Sanad ini berisi silsilah dari mana ia menimba ilmu tersebut hingga sanadnya bersambung kepada pengarang kitab. Lalu dalam beberapa sanad diteruskan sampai ke Rasulullah. Pemberian Sanad sangat penting untuk menjaga amanah keilmuwan, apalagi di zaman sekarang dimana hoax tentang Islam merajalela dan dikonsumsi seperti air mineral bersianida; terlihat menyegarkan tapi beracun. Dengan sanad, kita bisa melihat kuwalitas dan keabsahan ilmu seseorang, serta dari sumber mana dia menimbanya. Dari sini kita akan bisa menyaring dan mengetahui, mana orang yang benar-benar Ulama atau hanya mengaku sebagai Ulama. 

-Kajian; Selain rutinitas kuliah dan mengaji di serambi Al Azhar, Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) juga memiliki cukup banyak kajian yang berasal dari organisasi afiliatif masing-masing. Mulai dari tema Ushul Fiqh, bahtsul Masail, Kajian Pemikiran Islam, Al Quran dan disiplin Ilmunya, Kajian Hadits, Kajian Ekonomi Islam, kajian Sejarah Peradaban, Kajian Seni dan Musik hingga Safari budaya serta kajian sejarah lapangan yang dilakukan oleh kawan-kawan Kupretist du Caire. Tak hanya sampai ranah retorika saja, geliat kelilmuan Masisir mampu menunjukan kontribusinya dengan menerbitkan bulletin, majalah, jurnal hingga buku dari kajian yang diadakan. Sayangnya, beberapa kajian banyak yang belum mengarsipkan filenya secara rapid an professional, sehingga banyak file yang hilang ditelan waktu. Disini penulis ingin berbagi beberapa paper yang saya dapat dari kajian yang pernah dan sedang saya ikuti, antara lain; kajian Sejarah Rasulullah dengan buku yang dikaji Fiqh Sirah karya Almarhum Syekh Said Ramadhan Al Bouthy, lalu ada kajian pemikiran Lakpesdam di PCI NU Kairo dan kajian Risalah Nur di AKdemia Asadudin Syirkuh.

-Catatn Akhir Pekan; catatan ini mengulas tentang beberapa isu penting yang perlu dibedah. Selain itu catatan ini juga berisi ringkasan kegiatan selama seminggu dan akan terbit setiap jumat pagi.


3. Jelajah
Seperti namanya, dalam label ini pembaca akan menemukan berbagai macam tulisan yang berkaitan dengan perjalanan Miftah Wibowo dalam menyusuri jejak Sejarah Peradaban Manusia, baik di Mesir maupun di tempat lain. Ada beberapa genre yang ditawarkan, antara lain:

-Sejarah; jelajah dengan label ini akan mengulas lebih banyak ranah sejarahnya. Mulai dari sisi arsitekturnya, sisi profil pembangunya hingga sosial buadaya di zaman itu. Label ini sangat cocok bagi kawan-kawan yang ingin meneliti Sejarah dan Peradaban Islma lebih dalam.

-Religi; Jelajah yang satu ini berisi perjalanan dalam mengungkap profil para Sahabat Rasulullah, Ahlul Bait, Para Ulama Zaman hingga tokoh berpengaruh lainnya. Label ini saya tunjukan bagi kawan-kawan yang gemar berziarah ke makam para Aulia di Mesir maupun di luar Mesir.

-Backpacker; seperti namanya, labil ini akan menyajikan berbagai tulisan tentang petualangan yang dilakukan secara Backpack maupun travel. Mengungkap destinasi wisata menarik yang jamak dikunjungi turis serta ke tempat-tempat tersembunyi yang tak pernah anda banyangkan sebelumnya. Singkat kata, label ini sangat cocok buat pembaca yang hobi traveling ala tas gendong.

-Kuliner; Tidak kalah dengan kemaknyusan Pak Dhe Bondan, catatan ini menyajikan pembaca berbagai kekayaan kuliner dan budaya pangan masyarakat Timur Tengah dan Sekitarnya. Tulisan ini akan membahas tentang sejarah asal mula makanan tersebut, bahan yang dipakai, cara memasak –Kalau sempat- hingga tempat rekomendasi dan beberapa tips untuk menikmati kuliner tersebut. Pepatah juga mengatakan, “Kita adalah apa yang kita makan”. Yang berarti berbagai makanan yang masuk kedalam tubuh kita akan banyak mempengaruhi psikologi dan kesehatan kita. Jadi memperhatikan jenis makanan dan bahan yang digunakan merupakan hal wajib bagi seseorang. 


4. Kabar
Seperti namanya, menu ini menhadirkan kabar terhangat seputar Mesir dan Timur Tengah. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang  rentan terhadap gejolak politik. Timur Tengah merupakan tempat lahir dari tiga Agama Samawi yang memiliki penganut terbanyak di muka bumi. Selain itu letaknya yang sangat strategis di persimpangan tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa, ditambah tanahnya yang kaya akan SDA berupa minyak dan gas. Menjadikan banyak negara yang menaruh kepentingan dan mencoba menancapkan pengaruhnya di kawasan ini. Bhakan tak jarang menjadi medan pertempuran tak berkesudahan bagi Negara Adidaya, seperti yang terjadi pada Saudara kita di Iraq, Libya, Yaman dan terakhir Syiria yang masih dalam masa perang. Beberapa tulisan merupakan hasii pengamatan penulis yang kebetulan mendapat kesempatan mengunjungi daerah tersebut maupun bertemu dengan koresponden dari daerah tersebut. Kemudian dianalisa dengan data lapangan yang dikomparasikan dengan surat kabar dari media Timur Tengah dan lainnya. Ada dua kategori dalam label ini, yaitu Mesir dan Timur Tengah.

5. Kolom Sastra
Label ini berisi tulisan yang berkaitan dengan sastra, baik berupa puisi, prosa, cerita pendek maupun jenis lainnya. Saya sendiri sangat gemar mengkonsumsi tulisan sastra dari beberapa penulis Arab seperti Mustafa Manfaluthi, Naguib Mahfudz dan Syair-syair dari Ahmad Syauqi. Label ini hanya sepojok tempat untuk mengekspresikan rasa cinta terhadap sastra, bukan rasa yang pernah ada #Loh :D

6. Buku
Di menu ini pembaca akan menemukan berbagai resensi dari buku-buku popular, baik berbahasa Indonesia, Arab maupun Inggris. Saya sendiri termasuk bookholic yang tidak bisa menahan diri kalau ada buku bagus. Dalam pandangan saya yang penting saya beli dulu, membaca bisa kapan saja. Hasilnya, buku menumpuk di kamar dan ini yang menjadi perhatian utama serta menguras tenaga cukup banyak jika ada pindahan rumah. Mesir memang surga bagi para pecinta buku, setiap pojok kota Kairo berjejalan toko buku. Selalu ada buku baru yang terbit setiap minggunya. Namun yang menjadi tanda tanya, walaupun penulis buku begitu banyak dan harga bukunya sangat terjangkau bila dibanding Indonesia. Ternyata dalam masalah buta huruf Mesir memiliki banyak penduduk yang tidak bisa baca tulis.

7. Fotografi
Menu ini menyajikan beberapa foto hasil jepretan pribadi. Saya sangat kagum dengan foto yang bisa bercerita. Oleh karenanya saya dedikasikan menu ini untuk berbagi di dunia fotografi. Saya mulai belajar menggunakan kamera besar di kairo. Waktu itu saya mendapatkan Beasiswa kursus Fotografi dari Komunitas IPSC (Indonesian Photographer Society in Cairo) yang waktu itu diampu langsung oleh Mas Amran Hamdani. Beliau adalah murid langsung dari Cak Faiz –Pendiri IPSC- yang dulu pernah belajar fotografi di sekolah punya Canon. Walaupun sampai saat ini saya belum usai di kelas HI karena belum memiliki kamera sendiri, dalam lubuk hati saya harus menuntaskan kursusu ini. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Mas Amran Hamdani, The Cakers dan seluruh Guru-Kawan IPSC yang membimbing dan mengajari saya bagaimana menagkap cahaya dan kenangan.

Para Blogger dan Pembaca budiman, saya ucapkan terima kasih banyak karena telah membaca panduan ini sampai akhir. Semoga coretan yang saya buat sedikit banyak bisa bermanfaat. Selamat ber-blogwalking dan Selamat membaca 




Kamis, 23 Juni 2016

Sulaiman Agha Silahdar, Masjid Ala Turki di Jantung Kairo

Semenjak terbunuhnya TumanBay, penguasa terakhir hirarki Dinasti Mamalik Mesir di pertempuran Marj Dabiq, Negeri Seribu Menara ini  memasuki babak baru. Dinasti Mamalik yang telah menduduki singgasana Mesir selama lebih dari dua setengah abad, tunduk di bawah panji yang dibawa anak keturunan Osman Ghazi, Dinasti Utsmaniyah.  Fase ini ditandai dengan masuknya Sultan Selim I ke Kairo tahun 1517, sehingga Mesir resmi menjadi bagian dari kesultanan Turki utsmani. Masuknya Utsmani ke Tanah Para Nabi semakin menambah corak keunikan Peradaban Islam di Mesir, yang telah dibangun sejak berdirinya kota Fustat, kota Islam pertama di Afrika. Lalu berlanjut dengan pengaruh Abbasiyah yang ditandai berdirinya Dinasti Thuluniyah hingga Ikhsyidiyah. Kemudian semakin berkembang dengan berkuasanya Dinasti Fatimiyah yang membawa corak arsitektur Maroko dan Andalusia. Tak sampai disini, Dinasti Ayyubiyah yang tumbuh di Syam juga ikut mewarnai  Mesir saat  Perang Salib berkecamuk. 

Berkat Ayyubiyah, muncul para Mamluk yang bermiliter kuat dan berpendidikan baik. Sehingga sepeninggal Sultan terakhir Ayyubiyah, para Mamluk inilah yang kemudian mampu mendirikan dinasti baru, Mamalik. Para Mamluk berasal dari berbagai kawasan, seperti Turki, Transoxsiana, Lembah Volga, Kipchak hingga stepa Rusia, merubah Mesir sebagai pusat pertemuan berbagai Budaya dan beradaban. Pada era Mamalik terjadi persilangan budaya, seni dan arsitektur. Berbagai peradaban saling melengkapi hingga melahirkan perpaduan peradaban unik yang hanya bisa ditemukan di Mesir.


Masuknya Mesir ke dalam pangkuan Dinasti Utsmaniyah membawa banyak pengaruh, salah satunya di bidang arsitektur. Apalagi setelah Mesir diperintah Muhammad Ali pasha yang tumbuh dalam didikan Ustmaniyah, pada masanya banyak masjid, madrasah dan sarana publik dibangun dengan corak Turki Utsmani. Ditambah Muhammad Ali sangat senang menempatkan orang Turki dalam posisi penting kenegaraan, sehingga banyak sarana wakaf yang dibangun para menteri sangat kental dengan arsitektur Utsmaniyah. 


Salah satu contoh adalah komplek wakaf yang dibangun oleh menteri pertahanan dan persenjataan, Sulaiman Agha Silahdar. Karena jabatannya ia mendapat gelar kehormatan "Silahdar" (pen: Silah =senjata, Dar=rumah) yang menunjukan posisinya sebagai penanggung jawab persenjataan negara. Komplek wakafnya terdiri dari sebuah masjid, madrasah dan sarana minum umum yang disebut Sabil atau Salsabil. Terletak di museum peradaban Islam terbuka, al-Muiz Li Dinillah Street dan bedekatan dengan komplek Beit Suhaimy dan Gang Bargawan yang terkenal. Dengan menara pensil lancip Utsmaniyah yang menjulang tinggi dan dekorasi depan sabil yang penuh ukiran kaligrafi bertabur seni rupa Rococo, membuat Sulaiman Agha Silahdar menjadi satu-satunya contoh  sempurna peninggalan Utsmaniyah yang masih tersisa di al-Muiz Li Dinillah Street.


Sebagai gambaran umum, semua bangunan yang berada dalam komplek wakaf ini saling bersebelahan. Dari utara ke selatan, pertama kali kita akan menemukan masjid, disusul madrasah dan terakhir sebuah sabil cantik yang menghadap ke arah timur. Untuk lebih lengkapnya, mari jelajahi komplek Sulaiman Agha Silahdar satu persatu, dimulai dari masjidnya.


Masjid ini termasuk jenis Mu'allaqat atau  masjid gantung. Disebut demikian karena area masjid terletak di atas komplek wikalat atau semacam ruko di era sekarang. Bangsa Utsmani menerapkan kebijakan masjid gantung untuk tempat ibadah yang terletak di kawasan ramai bisnis, seperti di jalan al-Muiz li Dinillah.


Untuk memasuki masjid di lantai dua, pengunjung harus melewati lorong panjang. Sebelum memasuki lorong di atas pintu komplek ada sebuah prasasti pembangunan masjid menggunakan kaligrafi Utsmani. Setelah itu pengunjung akan melewati lorong batu cadas sepanjang 8 m yang bagian atapnya menggantung cantik lampu abad pertengahan dinasti Islam. Menyusuri lorong ini serasa melakukan perjalanan waktu menuju era Utsmaniyah. Lorong ini berakhir pada belokan kiri yang membawa pengunjung menaiki tangga. Berbeda dengan lorong pertama yang tertutup, lorong kedua bagian atasnya terbuka dan dihiasi beberapa lengkung iwan yang menawan.


Memasuki tempat shalat, pengunjung akan disambut pintu marmer putih yang diukir halus. Secara garis besar, area masjid dibagi menjadi dua bagaian, bagian halaman (Shan)  dan bagian dalam yang mempunyai mihrab. Walaupun keduanya berfungsi sebagai tempat shalat, namun keduanya memilki konsep yang berbeda. 


Bagian Shan ini dikelilingi oleh ruwaq terbuka dan masing-masing ruwaq memiliki kubah kecil di atasnya sebagai ciri umum arsitektur Utsmani. Selain itu, Shan juga berfungsi sebagai ventilasi pengatur sirkulasi udara, terkhusus pada musim panas. Terdapat kolam air mancur di tengah halaman dan tepat di bagian atapnya terdapat malqaf yang menghadap ke utara dan berfungsi sebagai ventilasi sekaligus pendingin alami.  


Cara kerjanya, ketika angin utara musim panas tertangkap oleh malqaf, lalu turun ke kebawah dan didinginkan oleh percikan air mancur. Sehingga saat udara luar terasa panas menyengat, bagian dalam komplek masjid terasa sejuk dan nyaman. Ditambah suara gemericik air mancur menghadirkan suasana alam ke masjid, menciptakan suasana relaksasi dan menambah kekhusyukan dalam beribadah. Saat ini air mancur marmer indah ini telah dipindah ke Musium Seni Islam (متحف الفن الإسلامى) yang terletak di Medan Ahmad Maher, Bab Khalq dan hanya meninggalkan sebuah lubang serta beberapa tempat minum tembikar.


Di sebelah kanan, tepat berhadapan dengan pintu masuk. Terdapat sebuah pintu yang akan menuntun pengujung menuju tempat wudlu. Sebelum sampai di tempat wudlu, pengunjung akan menuruni sebuah lorong berbentuk huruf L yang tangganya terbuat dari batu cadas. Tak seperti kebanyakan masjid bersejarah lain di Kairo yang dirombak total, Masjid Sulaiman masih mempertahankan bentuk asli tempat wudlu dan toiletnya. Pancuran tempat air wudlunya masih menggunakan keran kuningan Khas Ustmaniyah yang cukup antik. Sementara di bagian toilet, bak airnya masih menggunakan batu marmer yang mampu mendinginkan air di saat cuaca panas.


Sebelum memasuki ruang salat utama, pengunjung akan memasuki sebuah pintu marmer yang mahkotanya dihiasi kaligrafi (ونطمع ان يدخلنا ربنا مع القوم الصالحين) dan bunga bersepuh tinta emas. Setelah itu pengunjung akan disambut dengan sebuah Mihrab marmer yang sangat mempesona hasil persilangan arsitektur Utsmaniyah dan Rococo Eropa. Jika dilihat dengan teliti, pengunjung akan melihat ukiran berupa sinar matahari. Ukiran ini merupakan salah satu lambang Imperium Utsmani. Selain itu bunga bermekaran dan dedaunan segar yang diukir dengan ternik menyeruak keluar, adalah ciri khas dari warisan Eropa Klasik. Ukiran mihrab semakin memukau dengan adanya ukiran kaligrafi (فلنولينك قبلة ترضها) yang ditulis dengan tinta emas. Tepat menghadap utara, terdapat pintu masuk menuju lantai dua. Ruangan ini disebut Dikkah yang digunakan para mubaligh untuk meneruskan suara Imam saat salat berlangsung atau untuk menyampaikan berbagai pengumuman. 


Secara keseluruhan, Bagian langit-langit dari Masjid ini memiliki ukiran yang sama. Baik di bangunan masjid, Kuttab dan Sabilnya. Semunya bermotif hijau daun yang dipadu ornament garis emas berkelok. 


Salah satu kebijakan Daulah Utsmani, selain membangun Wikalah di pusat perdagangan sebagai sarana penunjang ekonomi rakyat. Para menteri yang  membangun sebuah komplek Masjid,  diharuskan pula mendirikan Madrasah dan Sabil. Madrasah sebagai penunjang pendidikan masyarakat sekitar. Sedangkan Sabil berfungsi sebagai penyuplai air bagi para musafir yang lewat maupun penduduk sekitar. Terlepas dari sikap buruk Sulaiman Agha Silahdar saat berinteraksi dengan orang lain. Maupun sifat memaksanya saat menginginkan satu hal. Dari bangunan yang ia bangun. Pengunjung mampu mengambil pelajaran berharga. Bahwa tujuan setiap masjid yang didirikan, selain untuk membangun budi pekerti dan akhlak yang baik dengan Ibadah. Masjidpun harus memiliki peran penting dalam meningkatkan taraf pendidikan dan ekonomi masyarakat sekitar.


Refrensi lebih lanjut :


1. Muhammad, Suad Maher. 2012. Masajid masr wa Auliayauha as-Shalihin. Kairo: Wizaret al-Auqaf. Jilid III, hal.281.


2.  Williams, Carolline. 2008. Islamic Monuments in Cairo. Kairo: American University Press. Hal. 203.


3. Suhail, Muhammad. 2013. Tarikh al-utsmaniyah: min Qiyam al-Daulah ilaa al-Inqilab ala al-Khilafah. Beirut: Dar al-Nafais. Hal. 161.



Melanjutkan Diskusi sejarah sambil menunggu berbuka puasa di Maidah Rahmah

Diskusi sejarah Masjid Sulaiman bersama kolumnis Sejarah Mesir Pak Abu Alaa

Shan atau Halaman tengah Masjid yang dulunya terdapat air mancur

Pintu masuk pemisah antara Shan dan Ruang utama shalat.


Selasa, 21 Juni 2016

Telisik Masjid Amr bin Ash, dari penaklukan Mesir hingga pemusnahan Fustat [1]


 "Jika Engkau mampu menaklukan Mesir, sesungguhnya ia akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Umat Islam. Karena sumberdaya alamnya amat melimpah, namun penduduknya tak berdaya untuk berperang".[2]
Halaman Tengah (Shan) Masjid Amr bin Ash.

Pendahuluan

Pertenghan Musim panas 6 Juni 640 M menjadi harapan baru bagi pasukan Muslim di Mesir, saat invantri bantuan dari Khalifah Umar bin Khattab tiba di bekas ibukota kejayaan masa Firaun, Ain Syams. Sahabat Zubair bin Awwam, Ubadah bin Shamit, Miqdad bin Aswad, Maslamah bin Mukhalad dan Kharjan bin Khudzafah merupakan nama para sahabat yang tercatat menjadi panglima dalam pasukan kiriman Khalifah. Bantuan datang, menyusul permintaan Amr bin Ash yang banyak kehilangan pasukan akibat sergapan Romawi di Umm Danin[3]. Untuk menaggulangi kekalahan akibat taktik perang Romawi yang selalu bersembunyi di balik kokohnya benteng Babylon ketika terdesak. Sahabat Amr menggunakan taktik "Pancingan", menantang tentara Romawi di Ain Syams yang jauh dari benteng mereka. Malamnya, Panglima Amr menyusun sekenario balasan dengan mengkonsentrasikan sebagian besar pasukannya di Ain Syams. Lalu tanpa sepengetahuan Romawi, ia menambahkan dua sayap invantri. Sayap pertama ditempatkan di dekat Jabal Muqattam[4] dan sayap kedua berada di Ummu Danin.

Paginya, pertempuran akbar yang ditunggu tiba saat fajar mulai menyingsing. Pasukan Muslim mulai bergerak dari markas Ain Syams ke selatan. Sedangkan pasukan Romawi beriringan keluar dari benteng merah, Babylon[5] menuju Ain Syam. Kedua pasukan bertemu di Abbasiyah. Baik Muslim maupun Romawi keduanya mulai melancarkan serangan setelah genderang perang ditabuh. Romawi begitu ambisius meluluhlantakan pasukan Muslim. Karena mereka telah menghancurkan dan menguasai titik kekuatan Romawi di Bahr al-Rum. Mulai dari Arisy, Farma, Bilbis dan sekarang mereka mencoba menaklukan jantung Romawi di Mesir, Benteng Babylon. Pasukan Muslimpun tak kalah semangat dalam berjihad. Bagi mereka hanya ada dua pilihan, mati syahid atau hidup menegakan Tauhid. Mereka percaya jika Mesir bisa masuk ke kekuasaan Kekhilafahan Islam, ia akan memotong sumber kekuatan Imperium Romawi di kawasan Mediterania. Itu artinya jazirah Arab akan terlindung dari serangan Romawi sewaktu-waktu.

Ternyata kemenangan berpihak pada pasukan Muslim. Pasukan Romawi yang tersisa tercerai berai dan melarikan diri ke timur menuju Babylon lewat lembah Muqattam. Namun tanpa mereka sangka, dengan sigap invantri pimpinan Kharjah bin khudzafah yang telah menunggu sejak semalam, menyergap pasukan Romawi. Kemudian mereka yang lolos dari sergapan pasukan Kharjah segera melarikan diri ke barat di pelabuhan Umm Danin, dimana kapal-kapal penyelamat menuju Babylon menunggu mereka. Lagi-lagi Pasukan Romawi mendapatkan serangan kejutan dari pasukan Muslim. Satu-satunya harapan mereka pupus, ketika mendapati kenyataan mereka terkepung pasukan Muslim yang telah siaga menunggu mereka. Pertempuran berlangsung heroik. Segelintir Romawi yang selamat dengan tenaga yang tersisa menyelamatkan diri ke Benteng Babylon.


Mihrab Utama dan Mimbar Masjid

A.    Kondisi sosial penduduk Mesir pra penaklukan
Tragedi bunuh diri Cleopatra[6] tahun 30 SM, menandai akhir kekuasaan Dinasti Ptolemy Yunani. Sejak saat itu Mesir memasuki sejarah kelam yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, menjadi negara jajahan Imperium Raksasa Byzantium. Di bawah pemerintahan langsung Agustus Caesar penduduk Mesir mulai mengalami pemaksaan agama, pajak yang tinggi dan penindasan yang bertubi-tubi. Romawi memandang Mesir sebagai lumbung negara penghasil gandum yang sangat berharga. Sedangkan Penduduknya mereka anggap sebagai alat penghasil gandum yang tak punya hak apapun dalam urusan pemerintahan dan administrasi negara. Dalam tatanan sosial, penduduk Mesir dipandang negara sebagai warga keempat atau kasta terendah setelah orang Romawi, Yunani dan Yahudi.

Penduduk Mesir semakin tersiksa dengan sistem pajak yang mahal dan tak adil. Sistem ini hanya menjadikan penduduk Mesir sebagai sapi perah penghasil pundi-pundi uang bagi pemerintah. Pajak primer mulai berlaku bagi mereka yang berumur mulai dari usia 14 hingga 60. Mereka juga dibebankan pajak hewan ternak, kepemilikan tanah, perabotan yang dimiliki serta pungutan liar di luar pajak sebagai uang pelicin. Bahkan bagi mereka yang akan mendapatkan warisan, harta warisan akan dipotong pajak sebelum diberikan kepada pewarisnya. Mesirpun akan dipungut pajak jika ada Kaisar yang baru diangkat sebagai hadiah pembelian mahkota. Tak hanya kaisar dan gubernur, para pegawai pemerintahan juga mewajibkan rakyat sekitar pajak khusus bagi mereka. Melihat pajak yang begitu menjerat, tak heran bila banyak penduduk yang kabur dari kota dan desa menuju padang sahara dan mengasingkan diri.

Pemerintah Romawi juga memaksa penduduk Mesir untuk menyembah dewa mereka dan menutup banyak kuil dewa Mesir. Disamping itu pemakaian huruf Hieroglif juga dilarang dan diwajibkan memakai huruf Romawi. Akibatnya huruf Hieroglif semakin dilupakan dan perlahan punah tak berbekas. Generasi selanjutnya benar-benar tidak lagi bisa membaca tulisan warisan nenek moyang mereka yang terpahat di kuil-kuil kuno.

Setelah kedatangan Holy Family, Nabi Isa Kecil, Sayyidah Maryam dan Yusuf al-Najjar ke Mesir yang berlindung dari kejaran tentara Romawi di Palestinan. Agama Kristen perlahan mulai menggantikan dewa penduduk Mesir. Pemerintah Romawi yang saat itu masih paganis, menurunkan titah penyiksaan bagi siapa saja yang memeluk Kristen. Penindasan menjadi makanan sehari-hari bagi penduduk Mesir dan tiang salib sebagai pusara terakhir bagi mereka yang bersikukuh dalam iman kekristenannya. Namun penyiksaan ini membuat agama Kristen semakin menyebar luas di Mesir. Sehingga masa ini disebut 'Ashr al-Syuhada[7].

Angin segar akhirnya bisa dirasakan penduduk Mesir manakala Kaisar Konstantin Agung (306-337M) memperbolehkan Kristen di negara jajahan Romawi termasuk Mesir. Selanjutnya disusul kebahagiaan di era Kaisar Theodosius I (379-395M) yang menurunkan titah dan menetapkan Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi. Namun kebahagiaan kaum Nasrani Mesir tak berlansung lama ketika terjadi perbedaan pandang tentang tabiat Yesus pecah. Ada kelompok yang berpendapat bahwa Yesus memiliki dua tabiat, Ketuhanan dan manusiawi (الهية و بشرية). Sedangkan lainnya memandang Yesus hanya memiliki satu tabiat yaitu ketuhanan saja (الهية واحدة). Kisruh perbedaan pandang ini semakin memanas setelah sampai pada meja para Patriach di Dewan Gereja. Hal ini berujung pada keputusan Dewan Gereja Khalqiduniyah[8] tahun 451M untuk memisahkan gereja yang bermazhab dua tabiat dan lainnya satu tabiat. Dalam perbedaan pandang ini, Dewan Gereja Negara konstantinopel mengambil mazhab dua tabiat. Sedangkan Dewan Gereja Mesir tetap berpegang teguh pada pandangan satu tabiat. Lalu muncul keputusan dari Kontantinopel bahwa penganut satu tabiat adalah kafir dan sesat[9]. Sejak saat itu, orang Koptik kembali menerima siksaan yang sama saat Romawi masih pagan. Sehingga banyak para pendeta Koptik yang mengasingkan diri ke daerah terpencil di Sahara. Salah satunya adalah Pendeta Benyamin yang mengungsi ke Sahara bagian barat.

B.     Jatuhnya Mesir ke pangkuan Islam
Kekalahan total tentara Romawi di pertempuran Abbasiyah membuka mata mereka akan kekuatan Muslim yang patut diperhitungkan. Apalagi setelah Benteng mereka terkepung dan politik diplomasi mereka menemui jalan buntu. Sebelumnya pihak Romawi mengundang delegasi Muslim untuk merundingkan perdamaian dan genjatan senjata di pulau Raudhah. Romawi yang diwakili Muqauqis meminta pasukan muslim menghentikan embargo Babylon dan pergi dari Mesir. Sebagai ganti dia akan memberikan 2 dinar kepada setiap tentara, 100 dinar kepada setiap komandan dan 1000 dinar untuk Sang Khalifah. Namun Ubadah bin Shamit sebagai delegasi Muslim dengan tegas mengatakan :

"فليس بيننا وبينك خلصة نقبلها منك ولانجيبك اليها الا خلصة من ثلاث(الاسلام-الجزية-القتال), فاختر أيتها شئت, ولاتطمع نفسك فى الباطل, بذلك أمرنى الأمير, وبها أمره أميرالمؤمنين, وهو عهد رسول الله (عليه الصلاة والسلام) من قبله الينا."

Medengar jawaban Ubadah, harapan Muqauqis sirna. Apalagi setelah Dewan Konsulat Romawi menolak pilihan Islam maupun Jizyah sebagai solusi damai. Kondisi Romawi yang lebih memilih pedang, memaksa tentara Muslim melanjutkan pengepungan dan penyerangan benteng Babylon. Pengepungan yang berlangsung lama hampir 7 bulan, membuat Babylon hampir kehabisan persediaan makanan. Tenaga para tentara yang ada di dalam benteng juga semakin melemah dengan hilangnya semangat mereka. Namun kondisi sebaliknya terjadi di luar benteng. Pasukan Muslin semakin bertambah semangat juangnya dari hari ke hari. Bahkan atas persetujuan Pangslima Amr, Zubair bin Awwan siap berkorban untuk menjadi jalan pembuka benteng. Dengan keahliannya, ia membuat tangga dan menyusup ke dalam benteng saat penjaga benteng terlelap di tengah malam. Dengan sigap ia membuka benteng bagian barat daya. Segera pasukan muslim menghujani panah pasukan yang menyerang. Benteng hampir dikuasai pasukan muslim saat fajar mulai terbit. Namun Jendral George pemegang Babylon yang melihat pasukannya hampir kalah, segera mengirim utusan ke Amr bin Ash untuk berdamai. Dari hasil perundingan, permintaan genjatan senjata diterima dengan syarat :

1.      Pasukan tentara Romawi segera meninggalkan benteng dalam tempo 3 hari.
2.      Segera meninggalkan Babylon lewat jalan sungai. Serta membawa bekal makanan yang cukup untuk perjalanan.
3.      Benteng dan semua peralatan di dalamnya menjadi hak milik kaum muslim.
Jatuhnya Benteng Babylon tepat pada hari Jumat, 6 April 641 M[10], menjadi awal masuknya Mesir ke dalam pangkuan Islam. Tepat hari Senin, pasukan Romawi meninggalkan benteng Babylon dan pulau Roudhah menuju Alexandria. Kemudian setelah kota pertahanan terakhir Romawi di Mesir, Alexandria dikepung. Tepat pada awal November di tahun yang sama, Muqauqis dan Herkulanus sebagai konsul Konstantinopel atas Mesir menyatakan gencatan senjata dan menyerah. Pasukan Muslim menyetujui dengan syarat:

1.      Membayar Jizyah bagi siapa saja yang termasuk dalam perjanjian
2.      Masa genjatan senjata (الهدنة) berlangsung selama 11 bulan. Orang Romawi harus meninggalkan Mesir, baik lewat jalan laut ataupun darat dengan ketentuan khusus.
3.       Pasukan muslim harus tetap di posisi awal mereka  dan tidak boleh menyerang Alexandria selama masa gencatan sejata. Hal ini juga berlaku untuk pasukan Romawi.
4.      Orang Romawi diperkenankan untuk membawa  semua tentara dan harta mereka kembali ke Konstantinopel. Dan bagi mereka yang masih memilki harta yang tertinggal, dikenakan biaya penjagaan.
5.      Tertara Romawi dilarang kembali ke Mesir, apalagi mencoba mengambil alih kembali.
6.      Umat Muslim tidak akan ikut campur dalam urusan keagamaan yang berhubungan dengan gereja.
7.      Memperbolehkan orang Yahudi untuk tetap tinggal di Alexandria.
8.      Romawi diharuskan mengirim 150 tentara dan 50 orang dari para administrator dan pendeta untuk mengurus Alexandria selama masa gencatan senjata.
Setelah 11 bulan pengepungan dan penaklukan daerah di delta dan bagian tengah Mesir. Negeri Lembah Nil yang membentang dari Nubia hingga ke Alexandria resmi menjadi bagian dari Kekhalifahan Islam.

Kemenangan umat Islam disambut gembira penduduk Mesir yang telah kenyang dengan kekejaman Romawi dari generasi ke generasi selama 6 abad. Mereka tidak dipaksa untuk masuk Islam. Bahkan mendapat kebebasan dan jaminan keamanan untuk kembali menjalankan Kristen dengan mazhab mereka yakini. Pemerintah Islam juga menyerahkan sepenuhnya urusan gereja kepada Dewan Gereja yang berwenang. Para pendeta yang mengasingkan diri di gurun sahara berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Termasuk pembesar Koptik Benyamin yang kembali ke Alexandria setelah puluhan tahun dalam pengungsian di barat sahara demi menghindari siksaan pemerintah Romawi. Mereka semakin bergembira manakala harta milik mereka yang dirampas pemerintah dikembalikan. Serta pajak ala Romawi yang selama ini menjerat mereka dihilangkan dan hanya diganti Jizyah serta pajak kepemilikan.

C.     Pembangunan Fustat dan pembagian demografisnya
Setelah urusan pemindahan kekuasaan dan masa gencatan senjata berakhir dengan hengkangnya Romawi dari Mesir. Tahun 641 M (21H), Amr bin Ash menetapkan lokasi pembangunan Ibukota Islam di Mesir berlokasi di timur benteng Romawi atau  bekas tempat penempatan pasukan Muslim saat pengepungan Babylon dulu. Ibukota baru ini dinamakan Fustat[11]. Kota Islam pertama di Afrika ini dibangun dengan penataan mirip kota yang berada di Jazirah Arab bagian selatan, mengikuti gaya Makkah dan Shan'a, Yaman[12]. Sama seperti tradisi umat Islam di daerah futuhat lainnya, masjid merupakan bangunan awal sebagai pondasi utama kota baru Islam. Amr bin Ash memerintahkan pembangunan Masjid sebagai pusat dakwah dan pembelajaran. Disusul pembangunan rumah  sahabat Amr terletak di sisi timur masjid yang disebut dengan Dar Amr al-Kubra sebagai pusat pemerintahan. Kemudian para sahabat, prajurit dan orang Arab yang ikut perang diizinkan membangun pemukiman di sekitar masjid. Sebagai perwakilan dari para kabilah, Amr bin Ash menyerahkan pembagian kawasannya kepada para pembesar kabilah, seperti; Muawiyah bin Hadij al-Tajiby, Syuraik bin Sama al-Ghathify al-Murady, Amr bin Qahzum al-Khulany dan Hayawil bin Nasyirah al-Ma'afiry. Berikut 3 jenis pembagian demografis pada awal pembangunan Fustat :


Penulis di reruntuhan Ibu Kota Islam pertama Afrika, Fustat.
1.      Khathath (الخطط) : penempatan penduduk berdasarkan nama Kabilah tertentu, antara lain Quraisy, Anshar, Khuza'ah, Aslam, Ghaffar, Muzaynah, Asyja', Juhainah, Tsaqifah dll. Konsep ini berlaku untuk kawasan yang sebelumnya kosong lalu dibangun kota. Dalam contoh kasus seperti Fustat dan Giza.
2.      Akha'id (الأخائد) : Jika khattat berlaku di Fustat dan Giza, maka sistem akha'id berlaku di Alexandria. Sistem ini dibagi menjadi 2, yaitu apa yang disebut Ibtidar(الابتدار) atau memberikan tempat tinggal kepada tentara yang pertama kali menempati rumah-rumah di luar benteng kota Alexandria yang ditinggalkan saat pengepungan kota. Karena waktu itu belum ada pembagian tempat tinggal di Alexandria. Sedangkan yang kedua disebut Takhshihs (التخصيص) atau pembagian tempat tinggal pasca pengepungan dan penempatan rumah langsung ditunjuk oleh pemerintah.
3.      Qatha'I (القطائع) : adalah tanah yang diberikan sebagai hadiah di bawah wewenang langsung dari pemerintah. Seperti apa yang diriwayatkan Ibnu Abdul Hakam bahwa Khalifah Umar memberikan kepada Ibnu Sandar sepetak lahan di Minyah al-Ashbagh.
Letak Fustat yang berada di bibir sungai Nil, membuat ekonominya berkembang pesat. Ditambah kawasan ini sejak zaman Firaun, Yunani dan terakhir Romawi telah menjadi mata rantai jalur perdagangan antara Mediterania dan Afrika. Kemakmuran kota Fustat menjadi magnet yang kuat bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih baik. Banyak kabilah Arab yang bermigrasi dari Jazirah Arab dan Syam untuk menetap di Mesir. Kondisi ini membuat demografis Fustat meluas dengan sendirinya. Geliatnya semakin terlihat manakala Fustat bertranformasi menjadi kota industry pertama di benua Afrika. Komoditi seperti keramik, gerabah, tenun dan karpet merupakan barang dagangan andalan yang diburu konsumen di kawasan Mediterania. Masjid Jami yang dibangun tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan sebagai pusat kajian dan pembelajaran agama. Pada masa selanjutnya muncul berbagai macam kajian dan masyayikh memenuhi ruwaq-ruwaq Jami al-Atiq ini. Antara lain kajian tafsir, hadits, fiqh, akidah dan disiplin ilmu lainnya.

D.    Riwayat Masjid Amr bin Ash dari pembangunan hingga pemusnahannya.
1.     Masjid Amr bin Ash pada awal pembangunan
Membincang tersebarnya Islam di Mesir dan Afrika tak bisa terlepas dari peran Masjid Amr bin Ash sebagai media penyiaran dan dakwah saat itu. Masjid ini merupakan masjid pertama sekaligus peninggalan Islam tertua di Mesir dan benua Afrika. Sahabat Amr bin Ash memerintahkan membangun masjid ini dekat dengan sungai Nil. Lokasi awal masjid hanya berjarak 200m dari pesisir Timur sungai Nil. Namun karena perpindahan aliran sungai saat ini letaknya lebih dari 500m dari sungai Nil.

Pada awal dibangunya, arsitekturnya masjid masih sangat sederhana. Bagian kiblatnya berupa tembok memanjang sepanjang 50 dzira' dengan lebar 30 dzira'[13]. Tiangnya masih menggunakan batang pohon Kurma dan sebagian dengan batu susun berlapis semen. Begitu juga atapnya yang masih berbalut pelepah kurma yang dirangkai dengan bilah papan kayu. Lantainya masih berbentuk tanah yang dipadatkan dan dicampur aspal, belum ada mihrab menjorok, menara adzan apalagi shahn[14]. Masjid Amr dibangun dengan 6 pintu, dua berada di sisi timur, dua di bagian utara dan sisanya di barat yang menghadap ke sungai Nil.
Saat itu penetuan arah kiblat ditetapkan dengan musyawarah 80 sahabat yang ikut serta dalam penaklukan Mesir. Antara lain Zubair bin Awwam, Ubadah bin shamit, Miqdad bin Aswad, Abu Darda, Abu Dzar al-Ghifary, Abu Bashrah al-Ghifary, Uqbah bin 'Amir al-Juhny dan puluhan sahabat lainnya.

2.     Masa Dinasti umayah
Pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi sufyan renovasi besar-besarn terhadap masjid Amr bin Ash dimulai. Apalagi setelah orang-orang mengeluh dengan semakin sempitnya masjid akibat banyaknya bangsa Arab pendatang dan orang Koptik yang masuk Islam[15]. Kemudian Maslamah bin Mukhallad sebgai gubernur Mesir satu mulai melakukan perluasan terhadap Jami al-'Atiq tahun 672M/53H. Pemugaran dimulai dengan memperluas bagian timur, utara dan barat laut. Ditambah pada masa ini aliran sungai Nil menjauh ke barat, sehingga memudahkan perluasan bagian barat masjid. Untuk pertama kalinya lantai masjid diblok dengan batu. Gubernur juga membangun ruang memanjang berbentuk menara di pojok keempat penjuru masjid sebagai tempat muadzin. Dari bangunan panjang ini menjadi awal lahirnya menara masjid di mesir.

Datang masa letika gubernur Mesir dijabat oleh Abdul Aziz bin Marwan yang ditunjuk oleh Abdul Malik bin Marwan  sebagai khalifah Umayah saat itu sekaligus saudaranya. Pada tahun 698M/ 79H Abdul Aziz melakukan pembongkaran untuk dibangun ulang. Perluasan difokuskan kea rah barat dan utara masjid. Sedangkan bagian timur dibiarkan karena berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk. Kemudian masa saat Abdullah bin Abdul Malik menjabat gubernur tahun 707M/89H. pada masanya atap masjid ditinggikan karena sebelumnya kontur pondasi masjid mengalami penurunan tanah.

Tiga tahun setelahnya, giliran Qurrah bin Syuraik menjadi gubernur Mesir tahun 710M/92H. Pada masanya bagian selatan masjid diperluas untuk pertama kalinya, begitu pula bagian timur masjid. Bekas rumah Amr bin Ash dan anaknya Abdullah dimasukan menjadi bagian masjid. Jika pendahulunya Maslamah bin Mukhalad menambahkan unsur arsitektur berupa menara adzan. Qurrah berjasa menambahkan mihrab berongga meniru apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat memugar Masjid Nabawi di Madinah pada 706M. Ia juga menyepuh tiang utama di depan mihrab dengan emas murni, menambah pintu masjid menjadi 11 pintu, menempatkan mimbar kayu serta memluruskan arah kiblat yang semula lebih condong ke timur. Perubahan besar arsitekture masjid untuk pertama kalinya terjadi pada masa ini.

3.     Masa Dinasti Abbasiyah
Berakhirnya kekuasaan Umayah di tangan Abbasiyah secara otomatis Mesir menjadi bagian wilayah Abbasiyah. Pada masa gubernur Shalih bin Ali tahun 750M/133H, Masjid diperluas lagi ke bagian timur. Sehingga rumah Zubair bin Awwam dibongkar dan dimasukan sebagai tanah masjid. Selain itu pintu masjid bagian timur untuk pertama kalinya diganti dengan pintu besi.

Pada masa Harun al-Rasyid, jabatan gubernur Mesir dipegang oleh Musa bin Isa. Pada tahun 791M/175H, bagian  utara serta timur masjid kembali diperluas dan dimasukannya Ruhbat Abi Ayyub menjadi bagian masjid. Luas masjid Amr bin Ash pada masa gubernur Musa adalah sama dengan setengah luas masjid saat ini.

Jika Musa bin Isa memperluas bagian utara dan timur. Maka pada tahun 827M/212H gubernur tunjukan Khalifah al-Ma'mun saat itu, Abdullah bin Dzahir memperluas sisi selatan dan barat masjid. Hingga pada eranya perluasan masjid berhenti dan luas masjid zamannya sama dengan luas masjid saat ini.

4.     Masa Dinasti Thuluniyah
Pada masa Khumaruwiyah putra Ahmad bin Thulun kebakaran hebat melanda masjid Amr bin Ash pada Safar tahun 888M/275H. Si jago merah dengan cepat melahap bagian perluasan Abdullah bin Dzahir. Sehingga Khumaruwiyah menugaskan gubernur Ahmad bin Muhammad al-Ajify untuk merenovasi bagian masjid yang terbakar.

5.     Masa Dinasti Ikhsyidiyah
Pada masa Ikhsyidiyah, pemerintah melakukan perombakan besar pada tiang lama dan menggantinya dengan tiang marmer yang ujungnya diukir dengan indah. Hal ini diutarakan pengelana Maqdisy Bisyari dalam memoarnya berjudul Ahsan al-Taqasim fi Ma'rifat al-Aqalim saat mengunjungi Masjid Amr bin Ash tahun 985M. Ia mengungkapkan,"Masjidnya merupakan bagunan yang begitu memukau. Bagian dindingnya dihiasi mozaik yang sangat mengesankan berpadu indah dengan tiang marmer yang bermahkota ukiran-ukiran masa silam. Masjid ini lebih megah dibandingkan Masjid Damaskus."

6.     Masa Dinasti Fatimiyah
Pada masa pemerintahan Khalifah al-Aziz billah. Tahun 988M memerintahkan wazirnya, Abu Farj Ya'qub bin Killis untuk merenovasi kubah baitul Mal masjid serta membuat mimbar baru yang disepuh emas.

Tak kalah dengan ayahnya, Khalifah al-Hakim biamrillah memerintahkan wazirnya Bargwan untuk memperindah masjid dan memperbaiki bagian yang rusak. Selesai renovasi sang wazir menuliskan namanya di papan marmer dan di temple di kelima pintu bagian timur. Namun setelah sang Amir meninggal, khalifah memerintahkan untuk mencopot nama wazir yang menempel pada dinding timur. Pada bulan Ramadhan 403H/ 1013M, al-Hakim memerintahkan untuk membawa ribuan mushaf milik Istana Timur untuk diwakafkan kepada Masjid Amr bin Ash. Seperti yang dikisahkan oleh penjelajah Persia, Nashir Khosru dalam bukunya Safarnama ketika mengunjungi Masjid Amr:

"Di dalam masjid terdapat 1298 Mushaf yang ditulis dengan tinta emas. Khalifah al-Hakim bi Amrillah yang memerintahkan pewakafan ribuan mushaf dari Qasr Syarqy untuk Jami' Atiq pada Ramadhan tahun 403 H."

Tiba masa Khalifah al-mustanshir billah memerintahkan untuk merenovasi mihrab besar, serta menyepuh bagian dalamnya dengan perak. Tak hanya itu khalifah juga memerintahkan menyepuh emas dinding kiblat dan memerintahkan wazirnya, Afdhal Syahinsyah untuk membangun menara besar bernama Mi'dzanah Sa'idah pada 1121M.

Pada masa Fatimiyah pembangunan Masjid Amr bin Ash mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang arsitekturnya. Para sejarawan menyebutnya sebagai masa keemasan. Namun anehnya Masjid Amr bin Ash dan kota Fustat justru menemui nestapa kehancurannya pada masa Fatimiyah.

Kisruh politik dan perebutan kekuasaan adalah penyebab kehancuran kota Fustat dan masjidnya. Saat itu setelah wazir Syawar menyingkirkan rivalnya, kini giliran khalifah al-Adhid menjadi sasaran selanjutnya. Negara berhasil dikuasai Syawar, sehingga Khalifah hanya dijadikan boneka politik. Sadar akan posisinya yang tidak menguntungkan, al-'Adhid meminta bantuan Amir Asaduddin Syirkuh dari Syam untuk menyingkirkan Syawar. Namun Wazir yang merangkap sebagai khalifah ini tak tinggal diam dan bekerja sama dengan pasukan Salib yang telah menguasai daerah Palestina. Namun kelicikan taktik Syawar tercium.  Pasukan Salib saat itu telah menguasai delta Mesir bagian timur dan mendirikan barak tentaranya di Blibis. Merasa dipermainkan Syawar, pasukan Salib segera melancarkan serangan ke Kairo. Melihat kota Fustat yang begitu besar tanpa benteng, ia mengambil keputusan untuk membakar habis seluruh kota Fustat beserta isinya, termasuk masjid Amr bin Ash tahun 1168M/564H. Tujuan Syawar hanya satu supaya kota tak dikuasai tenntara Salib. Lalu sebagian penduduk berhasil mengungsi ke dalam benteng Kairo dan sebagian lainnya meninggal terbunuh. Kota Fustat dan sekitarnya dilalap hebat oleh si jago merah. Api menyala selama 54 hari tanpa sedikitpun padam. Semua bangunan megah Fustat dan Masjidnya runtuh. Kini hanya kenagan dan cerita indah yang tersisa, selain tumpukan batu bata dan tiang marmer yang gosong.

Penutup

Sudah menjadi sunnatullah bahwa sejarah selalu berulang. Kisruh politik selalu menghancurkan maha karya peradaban manusia. Bahkan demi politik manusia rela menumpahkan darah sesamanya. Tidak ada musuh dan teman yang abadi, yang ada kepentingan Abadi. Semoga kita tak hanya bisa membaca sejarah dari nama, tanggal dan tempatnya, melainkan bisa memetik buah hikmahnya untuk pelajaran di masa mendatang. Atas Inayah-Nya, paper ini selesai pada hari Jumat. Semoga bermanfaat.

Bagi Pembaca yang ingin memiliki salinan PDF artikel ini, Silahkan diunduh disini


Muhammad, Pemandu Situs sedang menjelaskan Sejarah Kota Fustat .
Struktur rumah penduduk Fustat yang dibumihanguskan Wazir Syawar
Daftar Pustaka
·         Al-Syahry, Muhammad Ahmad. 2013. Dirasaat fi Tarik Masr al-Islamiyah. Kairo: Al-Azhar university Press.
·         William , Caroline. 2008. Islamic Monuments in Cairo. Kairo: AUC Press.
·         Spencer, Jeffrey.1996. The British Museum Book of Ancient Egypt. London: British Museum Press.
·         Al-Barry, Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Penerbit Arkola.
·         Al-Hafnawy, Samir. 2014. Jaulat al-Shahabah wa al-Tabiin fi Ardh Mas. Kairo: Maktabah Rahmah.


[1] Disarikan oleh Miftah Wibowo dari berbagai sumber. Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Tarikh wal Khadharah Islamiyah di Universitas Al-Azhar. Paper ini ditulis sebagai materi pendukung kajian lapangan Kupretist du Caire ke-2 (Jumat,14 Agustus 2015).
[2] Ucapan Khalifah Umar bin Khattab kepada Sahabat Amr bin Ash ketika di Jabiyah.
[3] (أم دنين)Daerah ini sekarang bernama Azbakiyah. Dahulu tepi sungai Nil tepat di daerah ini sebelum akhirnya menjauh ke arah barat.
[4] Muqattam (جبل مقطم) merupakan kumpulan bukit di bagian timur kota Kairo. Selain bersejarah, bukit ini dianggap suci oleh umat Kristen Ortodhox Mesir (Koptik).
[5] Benteng Babylon mencakup kawasan Masr Qadim dan bekasnya masih bisa dilihat tepat di depan stasium metro Mark Girgis.
[6] Bernama lengkap Cleopatra VII Philopator (51-30 SM). Ia merupakan penguasa ke-14, penguasa perempuan Yunani pertama dan penguasa terakhir Dinasti Ptolemy.
[7] Disebut sebagai Masa Syahid karena banyaknya Umat Kristen yang dibantai pemerintah Romawi. Sehingga pada masa selanjutnya banyak gereja dibangun dengan nama mereka yang syahid. Seperti Mark Girgis, Abu Sergah dll.
[8] Dalam istilah Barat dikenal sebagai The Council of Chalcedon (مجمع خلقدونية) yang diselenggarakan dari 8 Oktober- 1 November di Chalcedon, sebuah kota di kawasan Bithynia, Asia Minor. Sekorang kota ini dikenal dengan Kadıköy, Istanbul di Turki.
[9] Umat Kristen Mesir memandang keputusan Dewan Gereja Konstantinopel sebagai pemaksaan. Kristen Koptik berpandangan bahwa merekalah pemegang akidah yang benar tau biasa disebut Orthodox. Para penganut satu tabiat menyebut mereka sebagai Ya'qubiyin yang dinisbatkan kepada Ya'qub al-Baradi'iy sebagai Imam Besar mereka dan berasal dari kota Raha di Asia Kecil. Sedangkan kelompok bermazhab dua tabiat menyebut dirinya sebagai Malkaniyin, karena mereka mengikuti mazhab raja dan kekaisaran.
[10] Betepatang dengan Rabi' al-Tsani tahun 20 H.
[11] Ada banyak pendapat mengenai makna dari Fustat, Ada dua pendapat yang kuat. Pertama, menyebut Fustat berasal dari Bahasa Arab yang berarti kota. Merujuk pada kejadian Pertempuran Yamamah. Sedangkan pendapat kedua digadang oleh Prof. Petler, Orientalis Inggris yang mengatakan Fustat berasal dari bahasa Romawi Fossatum. Istilah ini umum bagi tentara Romawi untuk menyebut tempat dimana pasukan Arab mendirikan tenda saat pengepungan Babylon.
[12] Pendapat ini yang banyak disepakati oleh jumhur sejarawan. Salah satunya Orientalis Jerman, Adam Mez yang berpendapat Fustat dibangun dengan tata kota seperti di selatan Jazirah Arab. Selain pendapat ini ada pendapat lain yang mengatakan Fustat dibangun dengan corak Yunani seperti yang jamak di Laut Mediterania. Lalu model Babylon karena posisinya dekan dengan benteng Babylon dan yang terakhir adalah berpendapat Fustat dibangun dengan tata kota ala Persia.
[13] Sekitar 37,5m x 22,5m.
[14] Shahn (الصحن) merupakan  pelataran terbuka yang berada di tengah masjid. Seperti yang ditemukan di Masjid Amr bin Ash sekarang.
[15] Hal senada diriwayatkan oleh Imam Maqrizy dalam kitab Akhbar Masjid ahl al-Rayat karya Abu Umar al-Kindi.

Sahabat Blogger Miftah Wibowo