Rabu, 30 November 2016

Mencicipi Kuliner Khas Jalur Sutra, Lagman di Istanbul



Matahari mulai pulang ke peraduannya, senjanya mulai sirna dari barisan Tujuh Bukit Istanbul. Beberapa pemuda Indonesia terlihat buru-buru memasuki stasiun kereta bawah tanah Metro meninggalkan Uskudar. Rupanya angin selat Bosphorus berhembus sedikit kencang mengiringi kepergian kami dari pesisirnya. Suara pekikan burung camar putih yang terbang memenuhi langit Uskudar, berpadu lembut dengan deburan ombak Bosphorus yang airnya mengalirkan cinta dan kenangan. Sepasang muda mudi berwajah Kaukasia terlihat memadu kasih di pesisir pantai menikmati senja kala itu. Pemandangan sekilas dan dingin angin musim gugur membuat mendung hati gerombolan pemuda itu. Bahkan beberapa dari mereka hatinya telah dulu menurunkan hujan lebat sembari berdesir; masih sendiri. Dari kejauhan Bendera Kiz Kulesi -Menara Gadisterlihat melambai dan berteriak, "Sampai Jumpa". "Ya, suatu hari aku akan kembali lagi, jaga dirimu baik-baik", Teriakku membalas.


*****

Hari ini tepat setahun lebih saya pernah berkunjung ke Turki saat musim gugur tahun lalu. Saya ingin bernostalgia dan menceritakan sedikit pengalaman saat berjalan-jalan di bekas ibukota Kekaisaran Islam terakhir di dunia, Istanbul. Saya mendapatkan kesempatan itu, ketika menjadi pengiring teman-teman yang lolos mengikuti program Berani Mumtaz dari Akademia Asaduddin syirkuh. Dari sekian banyak peserta yang mendaftar program, hanya 7 orang yang lolos dan mendapatkan reward mengunjungi Turki selama seminggu. Sisanya 3 orang pengiring, ada Mas Afiat, Cak Romal dan saya sendiri. Namun saat tiket pesawat Pegasus Airlines return sudah di-booking, ternyata salah satu penerima reward menyatakan tidak bisa berangkat karena ada Ujian Remidial mendadak. Tiket yang sudah di-booking, tidak bisa diuangkan sama sekali atau sekedar diundur tanggal keberangkatan. Akhirnya kami tetap berangkat tanpa Bang +Fakhry Emil Habib . The life must go on :(

Supaya berkesan perjalanan kami, kami berangkat bukan dari Bandara Internasional Kairo, melainkan berangkat lewat Bandara Sharmu Syeikh di Semenanjung Sinai. Semenanjung ini merupakan provinsi paling timur Mesir dan berbatasan langsung dengan Gaza, kota Eliat-Palestina, Yordania dan Arab Saudi. Di dalamnya terdapat Gunung Musa yang disucikan oleh ketiga Agama Samawi. Ibarta kata sambil menyelam minum nata de coco campur sirup Marjan. Sambil ke Turki sekalian jalan-jalan ke Sinai. 


Sampailah kami di Bandara Sabiha Gokcen, Turki dini hari. kami mulai menuju pusat kota Istanbul saat fajar menyingsing. Setelah Sarapan, Ahmet Abi -(Abi ;Panggilan Mas/Saudara/Kakak dalam bahasa Turki)- membawa kami ke sebuah Makam seorang Nabi, Yusya' Namanya. Makamnya sangat indah dan asri karena letaknya di puncak bukit yang dikelilingi hutan pinus dan langsung menghadap selat Bosphorus; menakjubkan. Selesai berziarah kami di bawa ke penginapan yang terletak di Edirne Kapi. Penginapan kami terletak di luar benteng kuno Konstantinopel yang berada di sisi Eropa. Jadi secara De Facto kami sudah menginjakan kaki, tidur dan minum di Eropa wkwkw. 


Pagi di hari kedua, kami diajak untuk melihat berbagai jenis Instansi Pendidikan Islam Turki dan model kurikulum yang dipakai. Kami menyambangi Akademia Camilca dimana para Sarjana Agama mendapatkan program pembelajaran Kitab Turats secara intensif selama 2 tahun. Selesai acara resminya, kini saat berjalan-jalan. Kami memilih menikmati senja pesisir Uskudar yang terkenal romantis itu. Saking romantisnya, banyak penyair yang memuji keindahan Uskudar dalam bentuk bait-bait sastra  maupun lagu sejak zaman Utsmaniyah. Salah satu yang saya tahu, sebuah lagu berjudul "Uskudar'a Gideriken". Silahkan dilihat video dan rasakan alunan Nay-nya yang begitu mendayu.



*****
Begitu sampai di Uskudar, ternyata gambaran keromantisannya benar-benar di luar ekspektasi benak kami. Uskudar rupanya lebih romantis dari yang kami kira. Bagunan-bagunan kunonya tertata cantik berpadu aura khas Turki modern. Turki yang begitu sekuler nyatanya sangat peduli dengan khazanan Islam masa lampaunya. Sangat berbeda dengan Kairo yang begitu Islami, namun terlalu dermawan menjadikan banyak situs purbakala Islam sebagai tempat sampah umum -Sambil ngelus dada-. Di setiap sudut terlihat bendera Turki dan gambar Bapak Pebangunan, Mustafa Kemal bersanding bersama. Uskudar dalam pandangan umum saya sama seperti sudut kota Istanbul lainnya; bersih dan rapi, namun dengan nilai tambah yaitu terlalu romantis.

Berkeliling sekitar Masjid Mihrimah Pasha dan melihat-lihat beberapa produk lokal -iya, cuma lihat doang :D- cukup membuat kami puas. Raungan lirih perut kami mulai terdengar, tapi kami belum bisa makan karena belum waktunya. lalu pembimbing kami Musa Abi -Orang Turki tapi lancar Bahasa Indonesia- mengajak kami duduk dan ngobrol di sekitar pesisir pantai. Dari kejauhan menara Kiz Kulesi berdiri gagah di tengah selat Bosphorus. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Utsmaniyah, Uskudar dan isu-isu terkini seputar Turki. Tak terasa matahari mulai kembali dalam peraduan. Angin senja yang sepoi kini berubah dingin menusuk. Beberapa muda mudi yang sedang memadu kasih di sekitar kami sedari tadi, masing-masing mulai berpelukan erat. Bagi mereka, mungkin ini adalah momen paling romantis dan di tempat romantis dalam hidup mereka. Tapi kisah ini tak berlaku bagi kami. Bagi para bujang lapuk yang sedari tadi terpaksa melihat kemesraan mereka, hanya bisa mengutuk diri dan berpelukan erat dengan tas masing-masing sekedar mengusir dingin dan rasa yang pernah ada #Ehh.

Lampu jalanan Uskudar mulai menyala. Dari kejauhan, Kiz Kulesi mulai berpendar memancarkan warna kuning keemasan. Ini berarti waktu makan malam telah tiba. Sesi yang ditunggu-tunggu datang, waktunya wisata kuliner. Musa Abi rencananya membawa kami mencicipi makanan khas Jalur Sutra. Untuk menikmati kuliner ini, kita harus menyebrang ke Sisi Eropa, tepatnya di Aksaray. Kami memilih memakai kereta bawah tanah semacam metro di Kairo. Jalaur bawah laut Bosphorus ini menghubungkan antara bagian Asia dan Eropa kota Istanbul. Sampai di Aksaray, secara umum kawasan ini mirip China Town karena banyak restauran Uyghur yang bertebaran sepanjang jalan. 

Uyghur merupakan nama suku  muslim yang berasal dari provinsi barat Cina. Jika ditelusuri lewat genealogi ras, Suku Uyghur bukan bagian dari suku-suku Cina, melainkan mereka masih satu keturunan dekat dengan orang Kazaks, Kyrgiz, Uzbek, Turkmen, Azerbaijan, Armen dan Turki sendiri. Saking kentalnya budaya Turkic (sebutan bagi rumpun Turki), orang Uyghur menamakan tanah kelahiran mereka sebagai Doğu Türkistan -Negeri Turki Timur-. Dalam peta perdagangan kuno, Jalur Sutra membentang dari Cina di Timur hingga Konstantinopel, ibukota Imperium Besar Romawi di Barat. Urumqi -Ibukota Uyghur- yang terletak di tengah jalur sibuk kuno tersebut, sejak dulu telah mampu mendirikan Khanet -Semacam kekaisaran kecil- sendiri. Bahkan setelah jatuhnya Mongol dan berlanjut hingga akhir abad 19. Kemudian di Abad 20, Uyghur diinvansi oleh Cina dan dimasukan ke dalam gambar peta RRC. Karena dilewati jalur perdagangan Timur-Barat Internasional, Urumqi menjadi salah satu pusat peradaban makmur di zamannya. Letaknya yang strategis di jalur persinggahan kafilah dagang membuat budaya kuliner Uyghur berkembang pesat. Cita Rasa Oriental Timur Cina berpadu dengan olahan danging khas para pengembara stepa Siberia. Salah satu makanan Uyghur yang terkenal di sepanjang jalur sutra adalah Mie Laghman. 

Setelah melihat-lihat cukup lama dan kedinginan di jalanan Aksaray, akhirnya kami sampai pada sebuah kedai Uyghur yang menyuguhkan Mie Laghman. Tempatnya sederhana, namun didesain dengan rapih dan elegan serta ditambah konsep lampu yang tepat, restauran ini mampu menciptakan pengalaman makan malam yang berkesan. 

Kami pun memesan, sebagian memesan Laghman goreng, sisanya Laghman berkuah. Sambil menunggu kami bisa menikmati secangkir Çay Turki hangat yang disediakan. Beberapa kawan gasak gusuk ribut ingin bertanya, "Apakah ada Wifi?" Ternyata ada. Obrolan yang berlangsung asik ditemani Teh Turki, pela-pelan lenyap ditelan Wifi. Semua orang khusyu' dengan dunia mereka sendiri; generasi merunduk :D. Hanya Mas Afiat dan Musa Abi yang masih asik melanjutkan obrolan tanpa tergoda kehadiran wifi sedetikpun, hingga pesanan Laghman kami sudah berpose cantik di depan mata masing-masing.

"Afiat Olsun" -Selamat Makan-, Ucap kami bersama-sama selepas berdoa. Suapan demi suapan mengobati kelaparan kami. Saya perhatikan, saat makan kawan-kawan nyaris tanpa ada suara yang terdengar -sunyi-. Kelelahan kami berkeliling, rasa lapar sejak tadi dan pemandangan di sepanjang Uskudar yang bikin baper, rupanya dibasuh habis oleh Laghman hangat yang aduhai rasanya.

Kalau diperhatikan sejenak, tampilan luar Laghman mirip Mie Cina pada umumnya. hampir mirip Mie Ayam punya kita. Tapi bedanya Laghman, mie yang dipakai rata-rata buatan tangan langsung, bukan produk pabrik. Selain itu, Laghman juga menggunakan banyak daging sapi yang dipadu bumbu khas Uyghur dengan banyak lada merah dan beberapa rempah hangat seperti kayu manis, star anise dan teman-temannya. Penggunaan banyak lada merah dan rempah bisa dimaklumi, melihat medan geografis jalur sutra yang cenderung ekstrim, Kadang pengunungan bersalju, lalu berubah menjadi gurun panas yang gersang. Oleh karenanya laghman disajikan dengan porsi besar untuk memenuhi kebutuhan tenaga dan menjaga tubuh para Kafilah dagang tetap hangat saat melintasi daerah dingin Siberia.

Beberapa kawan ternyata ada yang tidak bisa menghabiskan makanannya karena porsi terlalu besar. Beberapa merasa belum cocok dengan bumbunya. Kalau saya pribadi sudah cocok dengan Laghman. Karena di kairo saya tinggal dengan beberapa kawan dari Tajik, Kyrgiz dan Mongolia. Sehingga mampu beradaptasi dengan bumbunya. Itung-itung bertukar budaya dan kuliner, sekalian mengenalkan budaya dan kuliner Indonesia kepada mereka. Jadi jika datang ke Istanbul, jangan lupa mencoba Mie Laghman di Aksaray. Selamat Berwisata kuliner :)



Kawan-kawan yang kedinginan karena salah kostum, ternyata musim gugur Istanbul lebih dingin dari kairo.


Pemandangan selat Bosphorus dan sisi Eropa kota Istanbul dari Makam Nabi Yusya'. As.


Jalanan Uskudar yang sibuk


Ini bujang-bujang yang saya ceritakan :D dari kiri ke kanan; Ada Uda Wahyudi, Cak Romal, Uda Ghani dan Bang Zahid.




Penampakan Lagman Goreng yang menggoda dan segelas Cay hangat



Cerianya Mas Afi dan Teman-teman saat menyantap Lagman
Sampai Cak Romal dan Agung tak mau melewatkan setiap gigitannya.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blogger Miftah Wibowo