Kamis, 23 Juni 2016

Sulaiman Agha Silahdar, Masjid Ala Turki di Jantung Kairo

Semenjak terbunuhnya TumanBay, penguasa terakhir hirarki Dinasti Mamalik Mesir di pertempuran Marj Dabiq, Negeri Seribu Menara ini  memasuki babak baru. Dinasti Mamalik yang telah menduduki singgasana Mesir selama lebih dari dua setengah abad, tunduk di bawah panji yang dibawa anak keturunan Osman Ghazi, Dinasti Utsmaniyah.  Fase ini ditandai dengan masuknya Sultan Selim I ke Kairo tahun 1517, sehingga Mesir resmi menjadi bagian dari kesultanan Turki utsmani. Masuknya Utsmani ke Tanah Para Nabi semakin menambah corak keunikan Peradaban Islam di Mesir, yang telah dibangun sejak berdirinya kota Fustat, kota Islam pertama di Afrika. Lalu berlanjut dengan pengaruh Abbasiyah yang ditandai berdirinya Dinasti Thuluniyah hingga Ikhsyidiyah. Kemudian semakin berkembang dengan berkuasanya Dinasti Fatimiyah yang membawa corak arsitektur Maroko dan Andalusia. Tak sampai disini, Dinasti Ayyubiyah yang tumbuh di Syam juga ikut mewarnai  Mesir saat  Perang Salib berkecamuk. 

Berkat Ayyubiyah, muncul para Mamluk yang bermiliter kuat dan berpendidikan baik. Sehingga sepeninggal Sultan terakhir Ayyubiyah, para Mamluk inilah yang kemudian mampu mendirikan dinasti baru, Mamalik. Para Mamluk berasal dari berbagai kawasan, seperti Turki, Transoxsiana, Lembah Volga, Kipchak hingga stepa Rusia, merubah Mesir sebagai pusat pertemuan berbagai Budaya dan beradaban. Pada era Mamalik terjadi persilangan budaya, seni dan arsitektur. Berbagai peradaban saling melengkapi hingga melahirkan perpaduan peradaban unik yang hanya bisa ditemukan di Mesir.


Masuknya Mesir ke dalam pangkuan Dinasti Utsmaniyah membawa banyak pengaruh, salah satunya di bidang arsitektur. Apalagi setelah Mesir diperintah Muhammad Ali pasha yang tumbuh dalam didikan Ustmaniyah, pada masanya banyak masjid, madrasah dan sarana publik dibangun dengan corak Turki Utsmani. Ditambah Muhammad Ali sangat senang menempatkan orang Turki dalam posisi penting kenegaraan, sehingga banyak sarana wakaf yang dibangun para menteri sangat kental dengan arsitektur Utsmaniyah. 


Salah satu contoh adalah komplek wakaf yang dibangun oleh menteri pertahanan dan persenjataan, Sulaiman Agha Silahdar. Karena jabatannya ia mendapat gelar kehormatan "Silahdar" (pen: Silah =senjata, Dar=rumah) yang menunjukan posisinya sebagai penanggung jawab persenjataan negara. Komplek wakafnya terdiri dari sebuah masjid, madrasah dan sarana minum umum yang disebut Sabil atau Salsabil. Terletak di museum peradaban Islam terbuka, al-Muiz Li Dinillah Street dan bedekatan dengan komplek Beit Suhaimy dan Gang Bargawan yang terkenal. Dengan menara pensil lancip Utsmaniyah yang menjulang tinggi dan dekorasi depan sabil yang penuh ukiran kaligrafi bertabur seni rupa Rococo, membuat Sulaiman Agha Silahdar menjadi satu-satunya contoh  sempurna peninggalan Utsmaniyah yang masih tersisa di al-Muiz Li Dinillah Street.


Sebagai gambaran umum, semua bangunan yang berada dalam komplek wakaf ini saling bersebelahan. Dari utara ke selatan, pertama kali kita akan menemukan masjid, disusul madrasah dan terakhir sebuah sabil cantik yang menghadap ke arah timur. Untuk lebih lengkapnya, mari jelajahi komplek Sulaiman Agha Silahdar satu persatu, dimulai dari masjidnya.


Masjid ini termasuk jenis Mu'allaqat atau  masjid gantung. Disebut demikian karena area masjid terletak di atas komplek wikalat atau semacam ruko di era sekarang. Bangsa Utsmani menerapkan kebijakan masjid gantung untuk tempat ibadah yang terletak di kawasan ramai bisnis, seperti di jalan al-Muiz li Dinillah.


Untuk memasuki masjid di lantai dua, pengunjung harus melewati lorong panjang. Sebelum memasuki lorong di atas pintu komplek ada sebuah prasasti pembangunan masjid menggunakan kaligrafi Utsmani. Setelah itu pengunjung akan melewati lorong batu cadas sepanjang 8 m yang bagian atapnya menggantung cantik lampu abad pertengahan dinasti Islam. Menyusuri lorong ini serasa melakukan perjalanan waktu menuju era Utsmaniyah. Lorong ini berakhir pada belokan kiri yang membawa pengunjung menaiki tangga. Berbeda dengan lorong pertama yang tertutup, lorong kedua bagian atasnya terbuka dan dihiasi beberapa lengkung iwan yang menawan.


Memasuki tempat shalat, pengunjung akan disambut pintu marmer putih yang diukir halus. Secara garis besar, area masjid dibagi menjadi dua bagaian, bagian halaman (Shan)  dan bagian dalam yang mempunyai mihrab. Walaupun keduanya berfungsi sebagai tempat shalat, namun keduanya memilki konsep yang berbeda. 


Bagian Shan ini dikelilingi oleh ruwaq terbuka dan masing-masing ruwaq memiliki kubah kecil di atasnya sebagai ciri umum arsitektur Utsmani. Selain itu, Shan juga berfungsi sebagai ventilasi pengatur sirkulasi udara, terkhusus pada musim panas. Terdapat kolam air mancur di tengah halaman dan tepat di bagian atapnya terdapat malqaf yang menghadap ke utara dan berfungsi sebagai ventilasi sekaligus pendingin alami.  


Cara kerjanya, ketika angin utara musim panas tertangkap oleh malqaf, lalu turun ke kebawah dan didinginkan oleh percikan air mancur. Sehingga saat udara luar terasa panas menyengat, bagian dalam komplek masjid terasa sejuk dan nyaman. Ditambah suara gemericik air mancur menghadirkan suasana alam ke masjid, menciptakan suasana relaksasi dan menambah kekhusyukan dalam beribadah. Saat ini air mancur marmer indah ini telah dipindah ke Musium Seni Islam (متحف الفن الإسلامى) yang terletak di Medan Ahmad Maher, Bab Khalq dan hanya meninggalkan sebuah lubang serta beberapa tempat minum tembikar.


Di sebelah kanan, tepat berhadapan dengan pintu masuk. Terdapat sebuah pintu yang akan menuntun pengujung menuju tempat wudlu. Sebelum sampai di tempat wudlu, pengunjung akan menuruni sebuah lorong berbentuk huruf L yang tangganya terbuat dari batu cadas. Tak seperti kebanyakan masjid bersejarah lain di Kairo yang dirombak total, Masjid Sulaiman masih mempertahankan bentuk asli tempat wudlu dan toiletnya. Pancuran tempat air wudlunya masih menggunakan keran kuningan Khas Ustmaniyah yang cukup antik. Sementara di bagian toilet, bak airnya masih menggunakan batu marmer yang mampu mendinginkan air di saat cuaca panas.


Sebelum memasuki ruang salat utama, pengunjung akan memasuki sebuah pintu marmer yang mahkotanya dihiasi kaligrafi (ونطمع ان يدخلنا ربنا مع القوم الصالحين) dan bunga bersepuh tinta emas. Setelah itu pengunjung akan disambut dengan sebuah Mihrab marmer yang sangat mempesona hasil persilangan arsitektur Utsmaniyah dan Rococo Eropa. Jika dilihat dengan teliti, pengunjung akan melihat ukiran berupa sinar matahari. Ukiran ini merupakan salah satu lambang Imperium Utsmani. Selain itu bunga bermekaran dan dedaunan segar yang diukir dengan ternik menyeruak keluar, adalah ciri khas dari warisan Eropa Klasik. Ukiran mihrab semakin memukau dengan adanya ukiran kaligrafi (فلنولينك قبلة ترضها) yang ditulis dengan tinta emas. Tepat menghadap utara, terdapat pintu masuk menuju lantai dua. Ruangan ini disebut Dikkah yang digunakan para mubaligh untuk meneruskan suara Imam saat salat berlangsung atau untuk menyampaikan berbagai pengumuman. 


Secara keseluruhan, Bagian langit-langit dari Masjid ini memiliki ukiran yang sama. Baik di bangunan masjid, Kuttab dan Sabilnya. Semunya bermotif hijau daun yang dipadu ornament garis emas berkelok. 


Salah satu kebijakan Daulah Utsmani, selain membangun Wikalah di pusat perdagangan sebagai sarana penunjang ekonomi rakyat. Para menteri yang  membangun sebuah komplek Masjid,  diharuskan pula mendirikan Madrasah dan Sabil. Madrasah sebagai penunjang pendidikan masyarakat sekitar. Sedangkan Sabil berfungsi sebagai penyuplai air bagi para musafir yang lewat maupun penduduk sekitar. Terlepas dari sikap buruk Sulaiman Agha Silahdar saat berinteraksi dengan orang lain. Maupun sifat memaksanya saat menginginkan satu hal. Dari bangunan yang ia bangun. Pengunjung mampu mengambil pelajaran berharga. Bahwa tujuan setiap masjid yang didirikan, selain untuk membangun budi pekerti dan akhlak yang baik dengan Ibadah. Masjidpun harus memiliki peran penting dalam meningkatkan taraf pendidikan dan ekonomi masyarakat sekitar.


Refrensi lebih lanjut :


1. Muhammad, Suad Maher. 2012. Masajid masr wa Auliayauha as-Shalihin. Kairo: Wizaret al-Auqaf. Jilid III, hal.281.


2.  Williams, Carolline. 2008. Islamic Monuments in Cairo. Kairo: American University Press. Hal. 203.


3. Suhail, Muhammad. 2013. Tarikh al-utsmaniyah: min Qiyam al-Daulah ilaa al-Inqilab ala al-Khilafah. Beirut: Dar al-Nafais. Hal. 161.



Melanjutkan Diskusi sejarah sambil menunggu berbuka puasa di Maidah Rahmah

Diskusi sejarah Masjid Sulaiman bersama kolumnis Sejarah Mesir Pak Abu Alaa

Shan atau Halaman tengah Masjid yang dulunya terdapat air mancur

Pintu masuk pemisah antara Shan dan Ruang utama shalat.


Related Articles

2 komentar:

  1. referensinya masya Allah. Oiya mas..sebelum ke mesir kira2 buku apa yg musti saya konsumsi biar tidak kelaparan ssaat di lapangan nanti?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penggiat sejarah dan peradaban bacaannya harsu banyak dong, selain itu juga harus lintas bahasa :D

      kamu bisa baca bukunya Stanley lane-pool yang judulnya Story of Cairo. Sdah diterjemahkan ke Arab. Atau sekalian karya Imam Suyuthi kitab khusnul Muhadharah fi siratil Masr wal Qahirah.

      Buku refrensi di atas juga sangat direkomendasikan dibaca dan dimilki (y)

      Hapus

Sahabat Blogger Miftah Wibowo