Selasa, 23 Juli 2013

Terpaksa Sahur Ekspres

Waktunya Sahur
Ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu kedatangannya, umat Islam seluruh dunia bersuka cita menyambutnya. Bulan Suci ini selain ditunggu karena berbagai keutamannya, ia juga membawa bayak hikmah dan cerita seru seputar rutinitasnya, entah momen sepesial saat menunggu waktu berbuka dan curi curi pandang dengan jadwal imsakiyah saat sahur, selalu ada kisah unik yang menyertainya.

Seperti cerita seru yang dialami mahasiswa Mesir Indonesia (baca: Masisir). Ramadhan kali ini merupakan pengalaman puasa pertama di Mesir, serta menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa baru. Mengapa? Karena puasa di mesir lebih lama dan lebih panas, bulan Juli saat jatuhnya Ramadhan kebetulan masuk ke puncak musim panas, sehingga suhu pada siang hari berkisar 38-42 C. Jadi bisa anda bayangkan tantangannya, selain menahan lapar dan haus, dapat bonus ekstra menahan panasnya udara Mesir.
***
Sahur kali ini (23/8) bakal jadi momen sepesial yang tak terlupakan bagi penghuni flat Ashabul Kahfi, bukan karena lauknya yang sepesial, tapi hampir-hampir semua penghuni tak jadi sahur.


Cerita berawal saat saya membuka mata, karena terlalu capek pasca kelas fotografi sedari siang dan baru selesai setelah taraweh, sampai di Ashbul Kahfi langsung tepar di atas kasur, ternyata hampir saja aku kelewatan saat-saat berkah, alias "ga sahur". Melihat jam ponsel menunjukan jam 03.0, aku kaget dan langsung ngloyor ke dapur. Ternyata tak ada makanan apapun, sedangkang waktu sahur tersisa hanya 27 menit lagi, belum masak nasi apalagi lauknya. Karena petugas piket masak sedang tidak ada di rumah, kebetulan ia sedang mendapatkan tugas mengatar teman ke bandara.

Melihat kondisi yang super genting, banyak dari teman-teman hanya minum air, sebagian tawakal di depan ponsel masing-masing dan sisanya tergolek lemas meratapi nasib di atas pembaringan. Karena waktu semakin menipis dengan sigap Mundzir dan aku berbagi tugas, ia memasak nasi dan menggoreng kerupuk, sedangkan aku membuat lauknya.

Ketika membuka lemari pendingin untuk mencari sayuran, tiba-tiba semangatku mengejar sahur sirna, ternyata freezer yang menjadi harapan, malah jadi juragan "PHP" alias Pemberi Harapan Palsu, tak ada satu sayurpun untuk diolah kecuali beberapa tomat, bawang dan cabai. Terdesak waktu dan lapar, dengan bahan seadanya aku berniat membuat sambel kecap.

"Jadi masak apa tah? Kan sayurnya ga da?" Tanya mundzir yang penasaran dengan wujud lauknya.

"Kayanya kita mesti tirakat dulu, sambel kecap ama krupuk udah lumayan enak, moga aja ada malaikat ngetok pintu bawa lauk" jawabku asal ceplos.Mengetahui jawabanku, mundzir hanya senyum kuda sambil mengoreng kerupuk.

Bau harum langsung memenuhi dapur, kala bawang putih dan bombay dimasukan ke penggorengan, disusul dengan cabai dan tomat "Hemm, lumayan sedap" gumanku.

"Tiing toong", bel pintu berbunyi, "Dzir bukain pintu, noh ada tamu, siapa tahu malaikat bawa lauk" teriakku dari dapur. Ketika pintu dibuka ternyata Rijal yang datang, salah satu penghuni Ashabul Kahfi yang baru pulang.

"Anak-anak udah pada sahur tah?" tanyanya polos tanpa dosa.

"Belum lah, lauknya juga ga ada Jal, aku lagi bokek jadi ga bisa beli lauk."

Mendengar curhatku, Rijal langsung keluar "Ya udah ana ke depan beli telor sebentar".

Selang beberapa menit, bel pintu berbunyi dan Rijal kembali dengan membawa sekantung telur. Langsung saja kucampur semua telur ke pengorengan, ditambah sedikit merica, garam dan kecap, telor oreg ala miftahuna telah jadi.

Jam dinding seakan tertawa, karena 19 menit berlalu dan tersisa 8 menit waktu sahur. Krupuk dan lauk telah siap saji, tapi ternyata nasi belum matang juga.

"Dzir, gimana nasinya, udah matang?" tanyaku harap-harap cemas.

"Belom tah, bentar lagi" jawabnya sambil melototi rice cocker yang belum menunjukan tanda matang.

"Jkleek!!" Bunyi magicjar, tanda nasi sudah matang, segera mundzir membawa ke ruang tengah dan langsung membangunkan anak-anak yang terlanjur putus asa. Nasi langsung dituang di penampan besar tampak asap tebal keluar dari sela-sela nasi, tanda nasi masih sangat panas.

"Wuih gila, nasinya udah kaya Kawah Ijen aja nih, gimana makannya" celetuk salah satu teman.

"Tujuh menit lagi imsak, dari pada ga sahur, udah sikat aja" yang lain menimpali.

Jangan bayangkan sahur kali ini berjalan khidmat, melainkan mirip latihan bela diri ala kuil Sholin. Setiap orang mencoba mengambil nasi yang masih mengepul dengan tangan kosong, mereka berlomba dengan waktu imsak yang kian dekat.  Hal ini mengingatkanku akan adegan para murid Sholin, saat mereka sedang latihan jurus totok nadi, dengan mencelupkan tangan ke pasir panas. Membayangkan semua orang yang sedang makan di hadapanku botak mirip biksu, dan sedang latihan jurus dengan nasi panas haha.. Super lucu, sekedar imajinasi penghibur diri. Sahur kami yang biasanya santai dari jam 2, kini jadi super cepat berlomba dengan waktu imsak, Sahur kelas ekonomi berubah jadi sahur ekspres!

Karena terburu-buru, nasi yang masih panas langsung meluncur bebas ke tenggorokan, terasa kering dan haus. Kulihat ke dapur ternyata air habis, hanya air di wajan yang baru di masak barusan dan masih mengeluarkan asap. Aduh! Benar-benar makan buah simalakama, makan bertemu Kawah Ijen, minumnya pakai kawah merapi, makan panas, minum apalagi.

Dari pada kehausan dan sebentar lagi imsak, akhirnya tercetus ide untuk mencampur air yang matang nan mendidih dengan air keran mentah nan sejuk, asli langsung dari sungai Nil. Dirasa agak hangat, air oplosan siap diteguk, kuminum pelan-pelan menikmati setiap teguknya, sedikit lega. Saat tegukan terakhir adzan tanda imsakpun berkumandang. Alhamdulilah bisa sahur juga J

(Kairo-Miftahuna)
***
Catatan:
1.       Sahur Ekspres tidak baik bagi kesehatan, khususnya bagi penderita Magh
2.       Jangan meniru adegan oplos air, karena bisa menyebabkan sakit perut.
3.       Mohon maaf jika ada pihak yang kurang berkenan, karena cerita bersifat hiburan.
4.       Jangan meniru adegan "Kuil Sholin" tanpa didampingi ahlinya.


Related Articles

3 komentar:

  1. Haha.. Iya Jal, baik hati, dermawan, suka menabung dan tidak sombong ya Pak :D

    BalasHapus
  2. Pasti bakal terkenang banget miftah. Btw kok jd sepi? Lg konsen kuliah ya? Padahal aku merindukan tulisan-tulisanmu :-)

    BalasHapus

Sahabat Blogger Miftah Wibowo