Jumat, 04 Oktober 2013

Membumikan Talaqqi di Negeri Masisir


Seorang Syekh sedang menyampaikan dars di Talaqi

Beberapa mahasiswa tampak terburu-buru memasuki pintu Muzayyinin, Masjid al-Azhar. Dari dalam mikrofon menggema suara Syaikh Yusri Rusydi. Pagi-pagi ratusan penuntut ilmu antusias mengikuti talaqqi Sahih Bukhari tiap Sabtu. Setelah diteliti, ternyata wajah-wajah Melayulah yang mendominasi halakah itu. Ya, yang pria terlihat bermahkotakan peci putih bercap dan yang perempuan berbalut kerudung lebar anggun. Gambaran talaqqi di Masjid al-Azhar.

        Metode talaqqi ini telah yang dipraktekan sejak zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. "Begitu juga para tabiin talaqqi kepada sahabat dan berlanjut seterusnya sampai hari ini," jelas Humaidi, mahasiswa Fakultas Bahasa Arab. Dalam buku Ibta'adat Masafat wa Damian fi Qalbi, Ya Masr, terbitan KBRI Kairo, dikatakan sejarah talaqqi di Masjid al-Azhar sejak pertama kali diresmikan oleh Khalifah al-Muiz li Dinillah, diawali oleh Syaikh Ibnu Nu'man dengan mengajar kitab al-Iqtishar fil Fiqhisy Syi'i al Isma'ili. Adapun jejak pelajar nusantara sendiri baru diukir sejak munculnya Ruwaq Jawi, yang dibangun pada akhir pemerintahan Mamalik. Ruwaq inilah yang menampung para pelajar melayu dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei.

Terlepas dari sejarah talaqqi di al-Azhar, muncul fenomena unik seputar talaqqi di Masisir, sebutan untuk komunitas pelajar Indonesia di Mesir. Masisir sebagian besar berstatus mahasiswa di Universitas al-Azhar, namun hanya sebagian kecil yang rutin kuliah di kampus. Keberangkatan ke kuliah bisa dihitung dengan jari, itupun menjelang ujian dan hanya untuk mencari tahdidan. Talaqqi hanya sekedar tahu, tanpa ada keinginan mengikutinya. Berlama-lama membaca status dunia maya dan menyibukkan diri dengan organisasi lebih dipilih, dari pada talaqqi bersama masyayikh al-Azhar dan tenggelam dalam manisnya lautan ilmu. Hasilnya, mereka kurang mengenal atau bahkan jauh dari para ulamanya.

Lalu apakah yang membedakan mereka yang talaqqi dengan yang tidak? Menurut Hasbullah, Lc. hal yang membedakan ahli talaqqi dan non-talaqqi adalah sikap ahli talaqqi yang biasanya melakukan tahlil(analisis) maklumat secara detail. Berbeda dengan mereka yang hanya belajar di kuliah saja. "Mereka (yang jarang talaqqi, red.) cenderung mengkaji ilmu secara sederhana, terkadang sebatas muqarrar saja," ujarnya. Direktur Wisma Nusantara itu juga menambahkan bahwa yang biasa talaqqi terlihat manhajnya al-Azhar. "Dan ilmuan yang ideal itu mengikuti talaqqi," imbuh kandidat master di American Open University  ini.

Hasbullah juga menyebutkan sebenarnya banyak manfaat talaqqi, antara lain; bisa merasakan semangat para ulama, menambah pergaulan dengan ahlul ilmi dan mendapatkan doa dari masyayikh. Ia mengungkapkan belajar langsung dengan seorang guru, selain penting, juga merupakan sebuah kenikmatan. Kita bisa merasakan rahmat Islam dan nikmat memperoleh ilmu. Dan jika kita resapi secara mendalam, kita pasti bisa merasakan keindahannya. Kenapa? Karena guru-guru di talaqqi ikhlas menyampaikan ilmu. "Dan ketika kita sudah terbiasa mengikuti talaqqi, pasti akan susah meninggalkannya," jelas Hasbullah.

Hal serupa dituturkan oleh Zulhendri Rois, Lc. Menurutnya terasa sekali himmah ulama’ dalam talaqqi, dari awal baca kitab sampai khatam. Adapun perbedaan mendasar antara ahli talaqqi dan non-talaqqi ada dalam cara memahami funun dan ilmu. Dalam memahami qadiyah atau nushus, orang yang talaqqi merujuk ke masyayikh sebelum memakai dan menyampaikannya. "Sedang yang tidak talaqqi cenderung asal-asalan dalam memahaminya," tutur calon kandidat master di Fakultas Ushuluddin asal Padang itu.

Zulhendri lalu menambahkan, tak kalah penting adalah pergaulan yang luas dalam talaqqi karena bukan hanya Indonesia saja. Kita juga bergaul dengan orang Malaysia, Thailand, Brunei, Maroko, Mesir dan lain-lain. Selain itu, teman-teman pergaulan kita adalah mereka yang semangat menuntut ilmu. Menurutnya, dengan talaqqi kita pun bisa mendapatkan doa dan ijazah dari masyayikh serta pengarang kitab. "Doa itu nanti berkesinambungan dari mushannif sampai ke kita," tambah mahasiswa yang telah menamatkan strata satunya ini.

Lalu apa faktor yang membuat sebagian Masisir enggan talaqqi, selain kurangnya kemauan dan belum merasakan langsung manfaat talaqqi? Menurut Zulhendri Rois, Lc. pengenalan saat orientasi mahasiswa baru juga ikut andil dalam membentuk pola pikir mereka. Sebagai contoh, untuk mengisi hari pertama mereka di Mesir, kakak kelas bukannya mengenalkan al-Azhar dan ulamanya, tapi mereka justru mengarahkan anak-anak baru untuk berwisata. "Mahasiswa baru sejak awal di Mesir tak dikenalkan ke al-Azhar oleh senior, malah diajak ke Luxor, Piramida dan tempat-tempat wisata lainnya," tutur mahasiswa asal Padang tersebut.

Sebagaimana perkataan Syaikh Ahmad Toyyib sebelum menjadi Grand Syaikh, warga KMM ini menyebutkan bahwa al-Azhar mempunyai tiga manhaj. Barangsiapa yang belajar di al-Azhar dan menerapkan tiga manhaj tersebut, maka dialah azhari. Pertama, berakidah ahlu sunah wal jamaah, yaitu beriktikad dengan manhaj Imam al-Asy'ary dan Abi Mansur al-Maturidi. Kedua, beriktikad kepada empat mazhab dan mengamalkan salah satunya. Dan ketiga, al-Azhar bertasawuf kepada Imam Junaid dan Imam al-Ghazali. "Jadi, walau belajar di al-Azhar, sampai doktorpun, kalau tak memiliki tiga manhaj ini, belum layak disebut azhari," terangnya.

Menurut Zulhendri lagi, penyebab lain minimnya Masisir yang talaqqi adalah terkadang mereka tak begitu memahami bahasa talaqqi sehingga jenuh. Ditambah, sejak awal-awal di Mesir, mereka telah disibukkan oleh organisasi. "Bahkan sampai ke ranah politik, yang semua tak menjunjung dan tak menjamin seseorang menjadi ulama," imbuh mahasiswa jurusan Hadis tersebut. Mirip dengan Zulhendri, Hasbullah juga menuturkan bahwa minimnya Masisir ikut talaqqi kemungkinan karena sedang sibuk berorganisasi atau mengambil talaqqi di tempat lain, selain di al-Azhar.

Al-Azhar Jamian wa Jamiatan

Dalam desertasi berjudul Al-Azhar Jamian wa Jamiatan, tubuh al-Azhar terdiri dari dua wadah keilmuan, yaitu al-Azhar sebagai masjid (jami'an) yang mentransfer keilmuan lewat talaqqi dan al-Azhar sebagai universitas (Jami'atan) yang melakukan kegiatan keilmuan lewat sistem perkuliahan. Talaqqi dan kuliahpun menjadi satu-satunya media bagi mahasiswa al-Azhar untuk berinteraksi langsung dengan para ulamanya. Sehingga bisa mengetahui bagaimana manhaj al-Azhar supaya menjadi mahasiswa yang azhari. Karena inti keilmuan al-Azhar terletak pada masjidnya, sedang universitas merupakan perpanjangan lembaga masjid. Hal senada pernah disampaikan dalam sebuah talaqqi oleh Syaikh Usamah al-Azhari, bahwa inti dari al-Azhar adalah masjidnya (talaqqi), sedang universitas hanya sebagai perpanjangan masjid dan jawaban atas tantangan zaman.

Melalui talaqqi kita dituntut untuk memperhatikan dari mana kita menimba ilmu, sebagaimana diungkapkan oleh Humaidi. Mahasiswa asal Cirebon itu mengatakan bahwa ilmu itu agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu. Dalam talaqqi pelajar juga diajarkan untuk beradab, baik terhadap guru dan temannya, maupun terhadap kitab-kitabnya.

Kemudian mahasiswa tingkat tiga Fakultas Bahasa Arab ini mengutip perkataan gurunya, Syaikh Hisyam Kamil, “Barang siapa yang syaikhnya itu kitabnya, maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya.” Intinya, kalau kita mengambil dari kitab saja, sementara ilmu dirayah kita belum memadai, maka akan terjadi banyak kesalahan dalam memahami ilmu tersebut. Seperti dikutip dari fans page, Suara al-Azhar, Syaikh Amru Wardani dalam pengajian Asybah wa Nadza'ir menyampaikan bahwa ilmu dan metode dalam benak seorang ulama beberapa kali lebih banyak, dari apa yang ada dalam buku. Maka jangan hanya membaca buku kemudian mengajarkannya, tanpa terlebih dahulu belajar kepada seorang guru .

Related Articles

2 komentar:

  1. fontnya perasaan tmbh imut yaa, saya sambil memicingkan mata en hrs tekan control zoom hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba. Karena beda tempat kadang merubah formatnya. terima kadsih mba atas kunjungannya :)

      Hapus

Sahabat Blogger Miftah Wibowo